BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 31 Desember 2010

Hujan Meteor Akan Meriahkan Pergantian Malam Tahun Baru





Tahun baru 2011 akan dimeriahkan hujan meteor. Jika langit cerah, hujan meteor yang bisa dilihat di seluruh dunia ini juga bisa disaksikan di Indonesia mulai sekitar pukul 01.00. Hujan meteor Quadrantids yang akan terlihat di langit sebelah timur laut akan berlangsung mulai 1 hingga 5 Januari yang akan datang. Sementara Tiga hujan meteor lainnya akan terus berlangsung hingga 20 Januari. Quadrantids sendiri adalah salah satu fenomena hujan meteor terindah dengan intensitas "hujan" di atas rata-rata. Hujan meteor yang bisa terlihat dengan mudah di awal Januari ini bisa mencapai 40 meteor setiap jam pada waktu puncaknya yang biasa terjadi pada tanggal 3 dan 4 Januari. Sedangkan pada tanggal lainnya diperkirakan sebanyak 15 meteor akan melesat setiap jamnya. Waktu terbaik untuk menikmati hujan meteor Quadrantids adalah setelah lewat tengah malam hingga menjelang subuh dari tempat yang gelap. Para astronom menegaskan ukuran "gelap" dengan jarak 40 mil atau sekira 64,37 km dari cahaya lampu kota besar. Jika langit cerah dan syarat gelap itu terpenuhi, Anda tidak memerlukan teleskop ataupun teropong untuk melihatnya. Dengan mata telanjang saja hujan meteor ini dapat Anda nikmati. Selain hujan meteor Quadrantids, tiga hujan meteor lain turun secara acak. Titik arah datang tiga hujan meteor yang belum diketahui namanya itu bisa datang dari mana saja dengan frekuensi yang relatif kecil, sekitar 10 meteor per jam.

source: http://www.tribunnews.com/2010/12/30/hujan-meteor-meriahkan-malam-tahun-baru

Selasa, 28 Desember 2010

Kalendar Astronomi 2011

stargazingB

Berikut adalah peristiwa astronomi yang akan terjadi dalam tahun 2011 ini. Harap dapat membantu anda merancang aktivitas astronomi anda.

Januari

4hb - Hujan meteor Quadrantid (ZHR 120)

4hb - Gerhana Matahari Separa

Mac

21hb - Vernal Ekuinok

April

23hb - Hujan Meteor Lyrid (ZHR 20)

Mei

5hb - Hujan Meteor Eta Aquarid (ZHR 60)

Jun

2hb - Gerhana Matahari Separa

16hb - Gerhana Bulan Penuh

22hb - Soltis Musim Panas

Julai

1hb - Gerhana Matahari Separa

4hb - Aphelion

28hb - Hujan Meteor Delta Aquarid (ZHR 20)

Ogos

13hb - Hujan Meteor Perseid (ZHR 90)

September

23hb - Ekuinok Musim Panas

Oktober

22hb - Hujan meteor Orionid (ZHR 20)

November

6hb - Hujan Meteor Taurid Selatan (ZHR 10)

13hb - Hujan Meteor Taurid Utara (ZHR 15)

18hb - Hujan Meteor Leonid (ZHR 15)

25hb - Gerhana Matahari Separa

Disember

10hb - Gerhana Bulan Penuh

15hb - Hujan Meteor Geminid (ZHR 120)

22hb - Soltis Musim Sejuk

23hb - Hujan Meteor Ursid (ZHR 10)


DIKUTIP DARI --> http://astromas2020.blogspot.com/

Sabtu, 25 Desember 2010

Tiga Satelit Rusia Gagal Mengorbit



Satelit Glonass

KOMPAS.com — Pada Minggu lalu (5/12/2010) Rusia gagal mengirimkan tiga satelit navigasi Glonass ke orbitnya setelah meluncurkannya dari pusat peluncuran Baikonur, Kazakhstan. Hal tersebut disampaikan pejabat resmi Rusia kepada pihak media lokal Senin (6/12/2010).

"Ahli balistik telah memeriksa semuanya. Bagian atas roket yang membawa satelit tidak berada pada orbit utama, orbit antara, ataupun orbit darurat," kata salah seorang sumber pada kantor berita RIA Novosti.

Lebih lanjut, sumber itu mengatakan, "Perhitungan kami menunjukkan bahwa bagian atas roket bersama satelitnya jatuh di wilayah Samudra Pasifik, dekat Hawaii." Letaknya lebih kurang 1.500 kilometer dari Honolulu.

Sistem Glonass didesain Pemerintah Rusia untuk menandingi sistem navigasi global positioning system (GPS) milik Pemerintah AS. Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi keinginan tersebut.

Salah satu sumber yang pernyatannya dikutip oleh Interfax mengatakan, "Roket yang meluncur pada pukul 13.25 waktu setempat itu sejak awal mengambil jalur yang salah. Konsekuensinya, roket tak bisa masuk ke orbit target."

Meski demikian, kegagalan ini tak akan memengaruhi penggunaan sistem positioning yang baru nanti. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengatakan, "Ada 26 satelit Glonass, termasuk dua satelit gawat darurat. Ini memungkinkan untuk meng-cover seluruh wilayah federasi Rusia."

Ubah Tinja Jadi Energi di Luar Angkasa



NASA
Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

KOMPAS.com — Satelit pertama milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bagian dari UNESCOSat Project yang berbiaya 5 juta dollar AS, akan diluncurkan tahun depan. Peluncuran satelit ini bertujuan untuk membantu proses pendidikan, meningkatkan minat pada sains, dan meningkatkan kerja sama global.

Kini, satelit itu memiliki tujuan tambahan. Satelit itu akan digunakan untuk melihat kemungkinan bakteri bisa hidup dan melakukan metabolisme di luar angkasa. Muaranya adalah kemungkinan bahwa bakteri bisa dimanfaatkan untuk mengubah kotoran para astronot menjadi sumber bahan bakar di luar angkasa.

"Ini hal yang sangat potensial. Kita bisa mengambil sampah dan menggunakannya untuk membangkitkan listrik dalam misi ke luar angkasa," kata Donald Platt, Direktur Program Space Science dari Florida Institute of Technology, yang menjadi ketua misi ini.

Untuk melakukannya, para peneliti melengkapi satelit tersebut dengan tempat tes, saluran pencampur, dan pompa solenoide. Selain itu, akan disertakan juga bakteri anaerobik, sejenis bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam melakukan metabolisme.

Bakteri yang akan digunakan adalah Shewanella MR-1. Bakteri tersebut diketahui mampu mengubah kotoran menjadi bahan bakar hidrogen, bahan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat luar angkasa. Para peneliti ingin melihat dahulu efek tekanan dan gravitasi terhadap siklus hidup bakteri itu.

Para ilmuwan telah menemukan cara mengubah urine menjadi air minum untuk konsumsi selama di stasiun luar angkasa. Mampukah mereka memproduksi bahan bakar dari tinja untuk kebutuhan energi di luar angkasa?

Haruskah Pluto Digolongkan Planet Lag i?

hubblesite
Planet Pluto tampak lebih merah dan cerah

P
luto telah ditendang dari statusnya sebagai planet sejak keluarnya ketentuan International Astronomical Union (IAU) tentang syarat-syarat benda langit agar bisa dikategorikan sebagai planet.

Beberapa syaratnya adalah mengorbit bintang tertentu, mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri, tidak terlalu besar sehingga dapat menyebabkan fusi termonuklir serta telah mengosongkan orbit sehingga tidak ditempati oleh benda langit lain yang lebih besar.

Munculnya ketentuan itu sendiri salah satunya berkaitan dengan penemuan Eris pada tahun 2005. Eris saat itu dikatakan memiliki ukuran yang lebih besar daripada pluto.

Setelah kurang lebih 4 tahun Pluto tak menjadi planet lagi, kini perdebatan tentang status Pluto sebagai planet kembali menghangat. Situs Space.com menggelar jajak pendapat di websitenya. Jajak pendapat itu bertajuk "Haruskah Status Pluto Sebagai Planet Dikembalikan?"

Jajak pendapat itu digelar berkaitan dengan temuan baru tentang planet kerdil Eris baru-baru ini. Para peneliti mengatakan, anggapan bahwa Eris lebih besar dari Pluto mungkin salah, sebab berdasarkan hasil penelitian Pluto mungkin memiliki ukuran yang lebih besar dari Eris.

Para ilmuwan mengatakan hal tersebut setelah mengamati Eris baru-baru ini. Berdasarkan pengamatan itu, panjang okultasi Eris mungkin hanya 2.340 kilometer, lebih kecil dari panjang okultasi Pluto yang sebesar 2.342 kilometer. Artinya, ukuran Pluto mungkin lebih besar.

Sejumlah peneliti dalam publikasi Space.com memiliki tanggapan yang berbeda-beda terhadap pertanyaan pada jajak pendapat tersebut. "Saya menggolongkan pluto sama seperti objek lain di Sabuk Kuiper. saya pikir dia lebih bahagia di sana. Dia punya saudara," kata Neil deGrasse Tyson, Direktur New York City's Hayden Planetarium.

Sementara, Alan Stern, ilmuwan dari Southwest Research Institute di Boulder, Colo mengatakan, "Jika anda menuruti persyaratan IAU secara ketat, tak ada benda langit yang bisa dikatakan planet. Tidak ada benda langit yang benar-benar 'bersih' orbitnya."

Orang awam yang mengirim komentar tentang topik ini pun memiliki pendapat yang berbeda. Ada orang yang mengatakan bahwa Pluto tak selayaknya menjadi planet sebab IAU mengatakan hal tersebut berdasarkan massa dan inklinasi orbitnya.

Nah, bagaimana pendapat anda? Sejauh ini 44 % orang yang ikut jajak pendapat berpendapat bahwa Pluto seharusnya jadi planet, sementara 36% menganggap Pluto tak seharusnya menjadi planet. 20% orang memutuskan untuk menunggu hasil saja.


What about you ?


Planet Kerdil Makemake Temani Pluto dan Eris

Planet Kerdil Makemake Temani Pluto dan Eris
Kamis, 17 Juli 2008 | 07:54 WIB
NASA/ESA/A Feild/STScI
Sebelumnya dikenal sebagai 2005 FY9, Makemake satu kelompok dengan Pluto dan Eris dalam kelompok yang disebut plutoid.

JAKARTA, KAMIS - Himpunan Astronomi Internasional (IAU) menetapkan nama Makemake untuk planet kerdil yang sebelumnya disebut 2005 FY9. Objek yang termasuk jajaran planet kerdil itu berada di Sabuk Kuiper, daerah orbit yang lebih jauh dari Planet Neptunus.

Makemake adalah salah satu objek yang masuk dalam kelompok baru yang disebut plutoid. Sejak Himpunan Astronomi Internasional (IAU) menetapkan definisi plutoid, Makemake termasuk kelompok ini bersama Pluto dan Eris karena memenuhi ketentuan sebagai objek besar, bulat, dan berada lebih jauh dari Neptunus.

Nama Makemake diambil dari nama dewa kemanusiaan dalam kebudayaan Rapa Nui yang berkembang di Pulau Paskah (Easter Island) di Polynesia. Keterkaitan itu dipilih karena objek tersebut pertama kali dilaporkan oleh Mike Brown dari Institute Teknologi California (Caltech) menjelang Paskah pada tahun 2005.

Makemake adalah planet kerdil pertama yang diberi nama resmi sejak tahun 2006. Planet kerdil adalah istilah untuk objek langit yang tidak masuk dalam jajaran delapan planet besar di Tata Surya. Terakhir kali, IAU memberi nama Eris, dari nama dewi perselisihan dalam mitologi Yunani, untuk objek yang sebelumnya dikenal sebagai 2003 UB313.

Setelah Makemake, IAU tengah mempertimbangkan pemberina nama untuk objek yang kini dikenal sebagai 2003 EL61. Meski telah ditemukan sejak tahun 2005, IAU lamban untuk memutuskan karena terjadi silang pendapat mengenai penemunya. Selain Brown, klaim penemuan juga diajukan Jose-Luiz Ortiz dari Institut Astrofisika di Andalusia, Granada, Spanyol.

Inilah Gerhana Bulan Satu-satunya 2010


Ilustrasi gerhana bulan sebagian.

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah hujan meteor geminids beberapa waktu lalu, fenomena langit berikutnya akan menghampiri warga bumi pada malam ini, 20 hingga 21 Desember 2010 dini hari, yakni gerhana bulan total. Langit malam selama beberapa saat akan gelap karena absennya bulan.

Gerhana ini merupakan gerhana bulan total satu-satunya pada tahun 2010. Gerhana bulan total terakhir terjadi pada tanggal 20 Februari 2008, sedangkan dua gerhana bulan total diperkirakan akan terjadi pada tahun 2011.

Menurut prediksi NASA, gerhana bulan total bisa disaksikan oleh penduduk bumi yang tinggal di wilayah Amerika utara dan tengah, Eropa bagian utara, dan wilayah utara Pasifik.

Bagi mereka yang tinggal di wilayah Amerika utara, gerhana ini merupakan salah satu yang spektakuler. Jika mereka melewatkannya, mereka harus menunggunya lagi hingga tahun 2014.

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan prediksi NASA, di wilayah yang sejajar dengan Sumatera dan Jawa Barat, gerhana bulan total takkan terjadi sehingga warganya tak bisa menikmati.

Sementara wilayah yang sejajar dengan Jawa Tengah hingga timur Indonesia sebenarnya mengalami gerhana bulan total. Sayangnya, gerhana tersebut tetap saja tak bisa disaksikan. Gerhana bulan total di wilayah ini terjadi lebih kurang pukul 15.41 waktu universal (UT), waktu yang diukur berdasarkan rotasi bumi.

Namun, jangan khawatir. Penduduk Indonesia tak harus menunggu hingga tahun 2014. Tahun depan, penduduk Indonesia bisa menyaksikan dua gerhana bulan total.

Gerhana bulan tahun depan yang bisa disaksikan akan terjadi pada tanggal 16 Juni 2011 pukul 03.22 UT dan 10 Desember 2011 pukul 22.06 UT.

Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara bulan dan matahari dalam satu garis lurus. Sinar matahari tak bisa sampai ke bulan karena terhalang bumi. Bulan pun tampak tak bersinar.