BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 25 Desember 2010

Tiga Satelit Rusia Gagal Mengorbit



Satelit Glonass

KOMPAS.com — Pada Minggu lalu (5/12/2010) Rusia gagal mengirimkan tiga satelit navigasi Glonass ke orbitnya setelah meluncurkannya dari pusat peluncuran Baikonur, Kazakhstan. Hal tersebut disampaikan pejabat resmi Rusia kepada pihak media lokal Senin (6/12/2010).

"Ahli balistik telah memeriksa semuanya. Bagian atas roket yang membawa satelit tidak berada pada orbit utama, orbit antara, ataupun orbit darurat," kata salah seorang sumber pada kantor berita RIA Novosti.

Lebih lanjut, sumber itu mengatakan, "Perhitungan kami menunjukkan bahwa bagian atas roket bersama satelitnya jatuh di wilayah Samudra Pasifik, dekat Hawaii." Letaknya lebih kurang 1.500 kilometer dari Honolulu.

Sistem Glonass didesain Pemerintah Rusia untuk menandingi sistem navigasi global positioning system (GPS) milik Pemerintah AS. Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi keinginan tersebut.

Salah satu sumber yang pernyatannya dikutip oleh Interfax mengatakan, "Roket yang meluncur pada pukul 13.25 waktu setempat itu sejak awal mengambil jalur yang salah. Konsekuensinya, roket tak bisa masuk ke orbit target."

Meski demikian, kegagalan ini tak akan memengaruhi penggunaan sistem positioning yang baru nanti. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengatakan, "Ada 26 satelit Glonass, termasuk dua satelit gawat darurat. Ini memungkinkan untuk meng-cover seluruh wilayah federasi Rusia."

Ubah Tinja Jadi Energi di Luar Angkasa



NASA
Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

KOMPAS.com — Satelit pertama milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), bagian dari UNESCOSat Project yang berbiaya 5 juta dollar AS, akan diluncurkan tahun depan. Peluncuran satelit ini bertujuan untuk membantu proses pendidikan, meningkatkan minat pada sains, dan meningkatkan kerja sama global.

Kini, satelit itu memiliki tujuan tambahan. Satelit itu akan digunakan untuk melihat kemungkinan bakteri bisa hidup dan melakukan metabolisme di luar angkasa. Muaranya adalah kemungkinan bahwa bakteri bisa dimanfaatkan untuk mengubah kotoran para astronot menjadi sumber bahan bakar di luar angkasa.

"Ini hal yang sangat potensial. Kita bisa mengambil sampah dan menggunakannya untuk membangkitkan listrik dalam misi ke luar angkasa," kata Donald Platt, Direktur Program Space Science dari Florida Institute of Technology, yang menjadi ketua misi ini.

Untuk melakukannya, para peneliti melengkapi satelit tersebut dengan tempat tes, saluran pencampur, dan pompa solenoide. Selain itu, akan disertakan juga bakteri anaerobik, sejenis bakteri yang tidak memerlukan oksigen dalam melakukan metabolisme.

Bakteri yang akan digunakan adalah Shewanella MR-1. Bakteri tersebut diketahui mampu mengubah kotoran menjadi bahan bakar hidrogen, bahan yang bisa digunakan sebagai bahan bakar pesawat luar angkasa. Para peneliti ingin melihat dahulu efek tekanan dan gravitasi terhadap siklus hidup bakteri itu.

Para ilmuwan telah menemukan cara mengubah urine menjadi air minum untuk konsumsi selama di stasiun luar angkasa. Mampukah mereka memproduksi bahan bakar dari tinja untuk kebutuhan energi di luar angkasa?

Haruskah Pluto Digolongkan Planet Lag i?

hubblesite
Planet Pluto tampak lebih merah dan cerah

P
luto telah ditendang dari statusnya sebagai planet sejak keluarnya ketentuan International Astronomical Union (IAU) tentang syarat-syarat benda langit agar bisa dikategorikan sebagai planet.

Beberapa syaratnya adalah mengorbit bintang tertentu, mempunyai massa yang cukup untuk memiliki gravitasi sendiri, tidak terlalu besar sehingga dapat menyebabkan fusi termonuklir serta telah mengosongkan orbit sehingga tidak ditempati oleh benda langit lain yang lebih besar.

Munculnya ketentuan itu sendiri salah satunya berkaitan dengan penemuan Eris pada tahun 2005. Eris saat itu dikatakan memiliki ukuran yang lebih besar daripada pluto.

Setelah kurang lebih 4 tahun Pluto tak menjadi planet lagi, kini perdebatan tentang status Pluto sebagai planet kembali menghangat. Situs Space.com menggelar jajak pendapat di websitenya. Jajak pendapat itu bertajuk "Haruskah Status Pluto Sebagai Planet Dikembalikan?"

Jajak pendapat itu digelar berkaitan dengan temuan baru tentang planet kerdil Eris baru-baru ini. Para peneliti mengatakan, anggapan bahwa Eris lebih besar dari Pluto mungkin salah, sebab berdasarkan hasil penelitian Pluto mungkin memiliki ukuran yang lebih besar dari Eris.

Para ilmuwan mengatakan hal tersebut setelah mengamati Eris baru-baru ini. Berdasarkan pengamatan itu, panjang okultasi Eris mungkin hanya 2.340 kilometer, lebih kecil dari panjang okultasi Pluto yang sebesar 2.342 kilometer. Artinya, ukuran Pluto mungkin lebih besar.

Sejumlah peneliti dalam publikasi Space.com memiliki tanggapan yang berbeda-beda terhadap pertanyaan pada jajak pendapat tersebut. "Saya menggolongkan pluto sama seperti objek lain di Sabuk Kuiper. saya pikir dia lebih bahagia di sana. Dia punya saudara," kata Neil deGrasse Tyson, Direktur New York City's Hayden Planetarium.

Sementara, Alan Stern, ilmuwan dari Southwest Research Institute di Boulder, Colo mengatakan, "Jika anda menuruti persyaratan IAU secara ketat, tak ada benda langit yang bisa dikatakan planet. Tidak ada benda langit yang benar-benar 'bersih' orbitnya."

Orang awam yang mengirim komentar tentang topik ini pun memiliki pendapat yang berbeda. Ada orang yang mengatakan bahwa Pluto tak selayaknya menjadi planet sebab IAU mengatakan hal tersebut berdasarkan massa dan inklinasi orbitnya.

Nah, bagaimana pendapat anda? Sejauh ini 44 % orang yang ikut jajak pendapat berpendapat bahwa Pluto seharusnya jadi planet, sementara 36% menganggap Pluto tak seharusnya menjadi planet. 20% orang memutuskan untuk menunggu hasil saja.


What about you ?


Planet Kerdil Makemake Temani Pluto dan Eris

Planet Kerdil Makemake Temani Pluto dan Eris
Kamis, 17 Juli 2008 | 07:54 WIB
NASA/ESA/A Feild/STScI
Sebelumnya dikenal sebagai 2005 FY9, Makemake satu kelompok dengan Pluto dan Eris dalam kelompok yang disebut plutoid.

JAKARTA, KAMIS - Himpunan Astronomi Internasional (IAU) menetapkan nama Makemake untuk planet kerdil yang sebelumnya disebut 2005 FY9. Objek yang termasuk jajaran planet kerdil itu berada di Sabuk Kuiper, daerah orbit yang lebih jauh dari Planet Neptunus.

Makemake adalah salah satu objek yang masuk dalam kelompok baru yang disebut plutoid. Sejak Himpunan Astronomi Internasional (IAU) menetapkan definisi plutoid, Makemake termasuk kelompok ini bersama Pluto dan Eris karena memenuhi ketentuan sebagai objek besar, bulat, dan berada lebih jauh dari Neptunus.

Nama Makemake diambil dari nama dewa kemanusiaan dalam kebudayaan Rapa Nui yang berkembang di Pulau Paskah (Easter Island) di Polynesia. Keterkaitan itu dipilih karena objek tersebut pertama kali dilaporkan oleh Mike Brown dari Institute Teknologi California (Caltech) menjelang Paskah pada tahun 2005.

Makemake adalah planet kerdil pertama yang diberi nama resmi sejak tahun 2006. Planet kerdil adalah istilah untuk objek langit yang tidak masuk dalam jajaran delapan planet besar di Tata Surya. Terakhir kali, IAU memberi nama Eris, dari nama dewi perselisihan dalam mitologi Yunani, untuk objek yang sebelumnya dikenal sebagai 2003 UB313.

Setelah Makemake, IAU tengah mempertimbangkan pemberina nama untuk objek yang kini dikenal sebagai 2003 EL61. Meski telah ditemukan sejak tahun 2005, IAU lamban untuk memutuskan karena terjadi silang pendapat mengenai penemunya. Selain Brown, klaim penemuan juga diajukan Jose-Luiz Ortiz dari Institut Astrofisika di Andalusia, Granada, Spanyol.

Inilah Gerhana Bulan Satu-satunya 2010


Ilustrasi gerhana bulan sebagian.

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah hujan meteor geminids beberapa waktu lalu, fenomena langit berikutnya akan menghampiri warga bumi pada malam ini, 20 hingga 21 Desember 2010 dini hari, yakni gerhana bulan total. Langit malam selama beberapa saat akan gelap karena absennya bulan.

Gerhana ini merupakan gerhana bulan total satu-satunya pada tahun 2010. Gerhana bulan total terakhir terjadi pada tanggal 20 Februari 2008, sedangkan dua gerhana bulan total diperkirakan akan terjadi pada tahun 2011.

Menurut prediksi NASA, gerhana bulan total bisa disaksikan oleh penduduk bumi yang tinggal di wilayah Amerika utara dan tengah, Eropa bagian utara, dan wilayah utara Pasifik.

Bagi mereka yang tinggal di wilayah Amerika utara, gerhana ini merupakan salah satu yang spektakuler. Jika mereka melewatkannya, mereka harus menunggunya lagi hingga tahun 2014.

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan prediksi NASA, di wilayah yang sejajar dengan Sumatera dan Jawa Barat, gerhana bulan total takkan terjadi sehingga warganya tak bisa menikmati.

Sementara wilayah yang sejajar dengan Jawa Tengah hingga timur Indonesia sebenarnya mengalami gerhana bulan total. Sayangnya, gerhana tersebut tetap saja tak bisa disaksikan. Gerhana bulan total di wilayah ini terjadi lebih kurang pukul 15.41 waktu universal (UT), waktu yang diukur berdasarkan rotasi bumi.

Namun, jangan khawatir. Penduduk Indonesia tak harus menunggu hingga tahun 2014. Tahun depan, penduduk Indonesia bisa menyaksikan dua gerhana bulan total.

Gerhana bulan tahun depan yang bisa disaksikan akan terjadi pada tanggal 16 Juni 2011 pukul 03.22 UT dan 10 Desember 2011 pukul 22.06 UT.

Gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara bulan dan matahari dalam satu garis lurus. Sinar matahari tak bisa sampai ke bulan karena terhalang bumi. Bulan pun tampak tak bersinar.

Bakal Kehidupan Ditemukan di Meteorit



PL/NASABongkahan meteorit yang jatuh di Sudan pada 2008 lalu.

KOMPAS.com — Asam amino yang selama ini disebut sebagai senyawa bakal kehidupan ditemukan di batu meteor (meteorit) yang jatuh di Sudan. Padahal, saat menembus atmosfer Bumi, meteor sudah terpanaskan dalam suhu ribuan derajat celsius. Temuan ini penting karena menunjukkan daya tahan senyawa tersebut terkait dengan pembentukan kehidupan di muka Bumi.

Asam amino sebetulnya sudah sering ditemukan di meteor yang kaya akan karbon. Namun, biasanya asam amino terbentuk dalam kondisi sejuk. Untuk pertama kalinya, para astronom NASA menemukan asam amino pada meteor yang sudah terpanaskan pada suhu 1.100 derajat celsius. "Suhu setinggi itu harusnya membunuh semua organik yang ada," kata Daniel Glavin, ahli astrobiologi dari Gooddard Space Flight Center, NASA.

Selama ini pembentukan asam amino di asteroid terjadi pada saat temperatur yang lebih sejuk. "Meteor ini menunjukkan ada cara lain yang melibatkan reaksi gas ketika asteroid yang sangat panas mulai mendingin," ujar Glavin. Temuan ini juga memberikan informasi tambahan bagi teori bahwa awal mula kehidupan di Bumi berasal dari asteroid.

Penemuan ini, menurut Glavin, merupakan hal yang penting karena mereka bisa mengetahui bahan-bahan kimia di luar angkasa yang berhubungan dengan asal mula Bumi. "Meteor bisa menyediakan asam amino pada awal Bumi terbentuk, juga pada planet-planet lain di dalam tata surya, termasuk Mars," jelas Glavin.

Meteorit yang ditemukan di Sudan berasal dari asteroid sebesar 4 meter yang masuk ke orbit Bumi pada tahun 2008. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Menanti Kejutan Teleskop Hubble


hubblesite.org Sebuah kabut nebula yang difoto teleskop ruang angkasa Hubble.

Gegap gempitanya tidak terasa di Indonesia ketika akhir April lalu teleskop Hubble genap berusia 20 tahun di antariksa. Memang di sinilah ironinya. Ketika bangsa lain telah melambung jauh dalam upaya memahami semesta, bangsa kita terpuruk dalam persoalan keseharian yang tidak membanggakan: pertikaian, kemiskinan, dan korupsi yang tiada habisnya.

Tak ada yang pernah menduga, kehadiran teleskop Hubble telah menjawab pertanyaan manusia yang paling mendasar tentang pembentukan alam semesta, tata surya, Bumi, dan terutama asal usul manusia. ”Kuncinya ada pada temuan bahwa bintang-bintang yang baru lahir mengandung elemen kimia yang sama dengan penyusun tubuh manusia,” kata John Grunsfeld, mantan astronot yang tiga kali ikut misi perbaikan teleskop Hubble, seperti dikutip CNN.

Dalam hal pemahaman alam semesta, citra-citra yang dikirim teleskop Hubble juga memberi kontribusi luar biasa. Kosmologi yang dulu spekulatif karena tingkat ketidakpastiannya tinggi—di atas 50 persen—kini menjadi sangat terukur dengan tingkat ketidakpastian kurang dari 10 persen.

Seperti diungkapkan Dr Premana W Premadi, peneliti bidang kosmologi, teori, komputasi, dan pengajar Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung, teleskop Hubble telah membuat apa yang disebut konstanta Hubble semakin akurat. Konstanta Hubble adalah parameter untuk menghitung laju pengembangan alam semesta.

”Dengan tingkat ketelitian konstanta Hubble seperti sekarang, bisa ditentukan bahwa umur semesta 13,7 miliar,” kata Premana.

Kemampuannya menangkap obyek-obyek yang jauh juga menghasilkan citra-citra galaksi saat semesta masih muda. Inilah yang memberi pengetahuan tentang bagaimana alam semesta bertumbuh kembang.

Bisa dikatakan, Teleskop Hubble adalah mesin waktu yang membawa para astronom ke masa lalu, menengok bagaimana persisnya embrio galaksi 14 miliar pada tahun sebelumnya. Hubble bahkan memotret bintang- bintang yang berumur ”hanya” 600 juta tahun pasca-Dentuman Besar (Big Bang).

Harapan dan kenyataan

Ketika diluncurkan dengan pesawat ulang-alik Discovery pada 24 April 1990 dan ditempatkan di orbit pada hari berikutnya, harapan para astronom yang sedemikian tinggi sempat pupus. Soalnya citra-citra yang dikirim ternyata sangat kabur.

Ternyata, masalah berasal dari cermin utama Hubble yang berdiameter 2,4 meter. Meski hanya meleset 2,2 mikrometer, citra dari teleskop senilai 1,5 miliar dollar AS itu menjadi amat buruk. Para ilmuwan di Badan Aeronautika dan Antariksa Nasional (NASA) semakin pusing saat enam giroskop yang mengatur orientasi gerak teleskop rusak satu demi satu.

Ketika pada tahun 1993 NASA meluncurkan misi perbaikan, orang tak berharap banyak. Ternyata, pemasangan instrumen dan giroskop baru menyelamatkan Hubble. Dua tahun kemudian, Hubble mengirim gambar spektakuler: pembentukan awal galaksi seperti yang dihuni manusia sekarang, pada masa satu miliar tahun pasca-Big Bang.

Total sudah lima misi berangkat memperbaiki Hubble. Tahun 2004, NASA mengumumkan tak akan mengirim misi lagi gara- gara meledaknya pesawat ulang-alik Columbia pada tahun 2003. Namun, berkat petisi masyarakat dan para astronot, misi perbaikan terakhir meluncur pada Mei 2009.

Dinamai sesuai astronom besar AS, Edwin Powell Hubble (1899-1953) yang pada dekade 1920-an menemukan galaksi-galaksi jauh di luar Bima Sakti, teleskop legendaris ini telah berperan besar meredefinisi pengetahuan manusia tentang galaksi, lubang hitam, dan teori pembentukan planet.

Menembus batas

Bisa dikatakan, Hubble telah membantu manusia menembus keterbatasannya. Ia telah menyajikan citra obyek-obyek antariksa yang jauh sekali jaraknya dari Bumi. Seperti diketahui, jarak galaksi terjauh dalam Ilmu Astronomi ada yang mencapai 10 miliar tahun cahaya. Jika satu tahun cahaya setara dengan 9.500.000.000.000 kilometer—berarti 9,5 triliun km— sebenarnya sungguh tak terbayangkan jarak yang berhasil dipantau teleskop Hubble. Sebagai perbandingan, Bulan sebagai benda langit terdekat dengan Bumi, jaraknya adalah 385.000 kilometer.

Teleskop ini bisa menyajikan citra yang sedemikian jernih karena radiasi elektromagnetik yang ditangkapnya tidak terhalangi atmosfer Bumi. Hubble mengorbit pada ketinggian 569 kilometer dari permukaan Bumi. Dengan laju 28.000 km per jam, Hubble mampu mengelilingi Bumi dalam 97 menit.

Energi Hubble berasal dari dua panel surya yang dapat menyediakan daya 2.800 watt. Daya ini yang dibutuhkan teleskop berbobot kurang lebih satu ton dan seukuran bus, setiap kali mengorbit.

Jangkauannya yang luar biasa membuat ilmuwan berlomba mendapat kesempatan mengamati semesta dengan teleskop Hubble. Tidaklah mengherankan bila jumlah proposal pengamatan yang diterima tujuh kali lebih banyak daripada yang dapat diakomodasi Institut Pengetahuan Teleskop Antariksa (STScl) di Baltimore, Maryland, tempat observasi Hubble dikendalikan.

Kejutan berikutnya

Setelah dua dasawarsa mengorbit dan mempersembahkan citra-citra luar biasa, apalagi yang akan dihasilkan Hubble?

”Harapkan apa yang tidak diharapkan,” kata Malcolm Niedner, peneliti Hubble dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland.

Dalam wawancara dengan Newscientist, Niedner mengingatkan bahwa lebih dari separuh perubahan pemahaman manusia tentang semesta berasal dari obyek-obyek foto Hubble pada kawasan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Namun, dark energy (energi gelap) tampaknya bakal menjadi kejutan berikut setelah Desember 2008 Hubble mengirim citra kluster galaksi Abell 85. Berjarak 740 juta tahun cahaya dari Bumi, Abell 85 adalah obyek terbesar di semesta yang runtuh sehingga ideal untuk meneliti dark energy.

Sebelumnya, para ilmuwan memang dikejutkan oleh temuan bahwa alam semesta telah mengembang lebih cepat dari yang seharusnya. ”Tenaga pendorong laju dipercepat itulah yang kemudian disebut dark energy,” kata Premana.

Dark energy adalah penentu seberapa besar galaksi akan terbentuk dan terdistribusi. Oleh karena itu, harapan kemudian bertumpu pada kemampuan teleskop Hubble mencari galaksi-galaksi lebih jauh lagi untuk mengungkap misteri dark energy ini.

Mungkinkan teleskop Hubble menemukan jawabnya? Waktu yang akan menentukan.
Kompas Ceta