BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 06 Agustus 2011

NASA Godok Wisata Murah ke Mars

NASA Kapsul Dragon yang dikembangkan Space X akan dipakai untuk misi ke antariksa yang jauh termasuk ke Mars.

KOMPAS.com — Wisata ke luar angkasa bukan hal baru. Dengan menumpang kapsul Soyuz milik Rusia, beberapa miliarder sudah mencicipi berkunjung beberapa hari ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS) meski harus merogoh kocek miliaran rupiah.

Pada masa depan, wisata semacam itu mungkin bisa lebih lama dan jauh, termasuk ke Planet Mars. Bahkan, harganya bisa jadi lebih ekonomis. Kemungkinan untuk mengadakan perjalanan murah ke Mars sedang digodok oleh NASA dan Space Exploration Technologies.

"Perjalanan dengan kapsul Dragon di roket Falcon Heavy dapat pergi ke Mars dengan biaya ratusan juta dollar AS, tidak miliaran," kata Pete Worden, Direktur Ames Research Center milik NASA dalam konferensi penerbangan luar angkasa komersial NewSpace 2011, akhir pekan lalu.

Space Exploration Technologies, atau disingkat SpaceX, saat ini sedang mempersiapkan uji penerbangan kapsul Dragon yang akan dilakukan pada 30 November. Kapsul tersebut akan terbang menuju stasiun luar angkasa. SpaceX berencana menambah kemampuan Dragon untuk menerbangkan orang ke luar angkasa, dan suatu hari nanti ke Mars.

Misi yang secara informal disebut Red Dragon ini akan mengikuti Mars Science Laboratory yang akan diluncurkan NASA, November nanti. Rencananya, NASA akan mendaratkan pesawat di Mars, Agustus tahun depan, dengan tujuan mengetahui kemungkinan planet untuk mendukung kehidupan mikroba, atau malah mencari tahu apakah planet pernah mendukung kehidupan tersebut.

Red Dragon direncanakan mengebor Mars untuk masuk ke dalam es yang terkubur dan mencari bukti-bukti kehidupan. "Salah satu hal penting adalah mencari kemungkinan kehidupan pada masa lalu," kata Worden. Misi Red Dragon juga berusaha mengetahui kemungkinan penerbangan membawa sejumlah beban ke Mars, hal yang terjadi saat membawa manusia ke Mars.

Elon Musk, pengusaha di balik SpaceX, mengatakan, hal yang superpenting dalam sejarah adalah, "Apakah kita akan menjadi spesies multiplanet atau tidak? Jika tidak, masa depan kita tidak terlalu cerah. Kita hanya berkerumun di Bumi sampai waktunya malapetaka tiba."

sumber : kompas.com

Juno Akan Menguak Sejarah Tata Surya

NASA/JPL-Caltech Ilustrasi saat Juno mendekati Planet Jupiter.

CAPE CANAVERAL, KOMPAS.com — Wahana antariksa Juno yang akan menjalankan misinya ke Planet Jupiter sukses diluncurkan dari Kennedy Space Center, Florida, Jumat (5/8/2011) pukul 12.25 waktu setempat atau pukul 23.25 WIB. Meski sedikit lebih lambat dari jadwal yang direncanakan semula, peluncuran dilaporkan berjalan lancar.

Pada misi ini, Juno akan melakukan beberapa riset, salah satunya adalah mengukur kadar air di atmosfer planet terbesar di tata surya itu. Juno dilengkapi dengan alat yang bisa mendeteksi radiasi gelombang mikro yang dihasilkan panas Jupiter.

Selain itu, Juno juga akan menjawab pertanyaan lain, misalnya, besarnya medan magnet di Jupiter, memetakan medan magnetnya, dan mengetahui inti planet itu. Tak lupa, Juno yang dilengkapi dengan kamera juga akan memotret Jupiter dan fenomena yang ada, seperti aurora di kutubnya.

"Apa yang kami cari adalah beberapa pertanyaan fundamental tentang tata surya kita. Bagaimana Jupiter terbentuk, bagaimana ia berevolusi, dan apa yang terjadi di awal tata surya sehingga menciptakan kita," kata Scott Bolton, pimpinan investigasi misi Juno.

Untuk mencapai Jupiter, Juno yang menghabiskan biaya 1,1 miliar dollar AS harus menempuh perjalanan selama 5 tahun ke depan. Juno akan melakukan manuver untuk memperoleh kecepatan yang diinginkan. Juno akan mampir ke orbit beberapa planet, termasuk kembali melakukan manuver di orbit Bumi pada tahun 2013. Diperkirakan, Juno akan sampai di Jupiter pada tahun 2016.

Dalam penjelajahannya, Juno dilengkapi dengan panel surya selebar 20 meter. Dengan adanya panel surya ini, Juno menjadi wahana antariksa penempuh jarak jauh pertama yang daya untuk penjelajahannya berasal dari tenaga surya.

Juno akan mengorbit Jupiter sebanyak 30 kali selama setahun. Lain dengan wahana antariksa lain yang memulai dari khatulistiwa, Juno akan memulai dari kutub.


sumber : kompas.com

NASA Luncurkan Juno ke Yupiter


NASA

WASHINGTON, KOMPAS.com- Badan Antariksa AS, NASA, Jumat (5/8/2011) waktu setempat, meluncurkan pesawat ruang angkasa bertenaga surya menuju planet Yupiter, dari Cape Carnaval Air Force Station di Florida. Pesawat seharga satu miliar dollar AS itu bernama Juno, dan akan menempuh perjalanan selama lima tahun ke Yupiter, yang berjarak sekitar 2.800 juta kilometer jauhnya.

Misi Juno ialah mencari apa saja yang membentuk planet terbesar dalam sistem tata surya itu. Satelit pengamat tak berawak itu akan didorong ke angkasa dengan sebuah roket bernama Atlas 4, dan lepas landas dari Cape Carnaval pada Jumat sekitar pukul 11:30 waktu setempat.

Hanya kurang dari satu jam setelah peluncuran, Juno akan terpisah dari Centaur di bagian atas roket Atlas V. "Pada titik ini, Juno akan menempuh perjalanan selama lima tahun untuk menjelajahi jarak 1.740 juta mil atau 2.800 juta km ke Jupiter," kata badan ruang angkasa AS.

Setelah tiba pada bulan Juli 2016, pesawat ruang angkasa akan mengorbit di kutub gas raksasa, yang memiliki lebih dari dua kali massa gabungan semua planet di tata surya, dan sebagai planet pertama yang berada di sekitar Matahari.

Misi bertujuan untuk 30 orbit selama periode satu tahun. Juno bertujuan untuk lebih dekat ke Jupiter daripada pesawat ruang angkasa NASA lainnya dan akan menjadi yang pertama mengorbit kutub planet, kata Scott Bolton, peneliti utama Juno dan ilmuwan di Southwest Research Institute di San Antonio, Texas.


sumber : kompas.com

Mirip UFO Teronggok di Dasar Laut Baltik


Peter Lindberg
Bentuk melingkat yang terekam radar di dasar Laut Baltik.

KOMPAS.com — Keberadaan obyek menyerupai piring terbang ditemukan tim eksplorasi bawah laut di Laut Baltik, sebelah timur laut Eropa.

"Bentuknya lingkaran besar berdiameter 20 meter, ada di kedalaman sekitar 100 meter. Posisinya berada di laut antara Finlandia dan Swedia," ujar ketua tim eksplorasi, Peter Lindberg. Tim juga menemukan jejak kehancuran lingkungan di sekitar lokasi penemuan reruntuhan di Teluk Bothnia. Kehancuran lingkungan mungkin terjadi akibat pergerakan mesin di sepanjang dasar lautan.

Temuan tersebut menimbulkan sejumlah spekulasi di kalangan pemerhati fenomena UFO. Surat-surat kabar di Swedia memuatnya sebagai berita utama. Namun, Lindberg sendiri tidak berpendapat benda yang ditemukannya berasal dari luar Bumi. Ia menganggap obyek itu serupa Stonehenge di Inggris.

Temuan obyek misterius di dasar laut bukan baru kali ini terjadi. Formasi batuan "Bimini Road" di perairan Karibia kerap dianggap sebagai jejak jalan dan dinding sebuah peradaban yang tenggelam. Namun, belakangan, para ahli geologi memastikan bahwa bongkahan hanya batuan pantai biasa.

sumber : kompas.com

Kamis, 28 Juli 2011

Target Berikutnya Asteroid dan Mars

NASA
Roket Ares I-X

KOMPAS.com — Asteroid dan Mars akan menjadi target misi antariksa Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dalam 15 hingga 20 tahun mendatang. Hal ini ditegaskan oleh Charles Bolden, administrator NASA, saat diwawancara CNN.

Bolden mengaku sudah mendapat titah dari Presiden Barack Obama. "Presiden menegaskan target misi ke asteroid pada 2025 dan misi ke Planet Mars pada 2030," katanya.

NASA sudah mempersiapkan beberapa strategi agar astronot dapat menapakkan kaki di permukaan asteroid. Strategi mereka adalah menempelkan pesawat mini dengan konsep mirip jala atau jaring laba-laba.

Mendaratkan manusia ke asteroid tidak mudah karena hampir tidak ada gravitasi di sana. Seperti dilansir oleh Daily Mail, Senin (25/7/2011), NASA menyebut butuh pesawat ruang angkasa khusus yang dapat tertambat ke asteroid.

Sementara untuk misi Mars, NASA telah membuat suatu laboratorium bergerak yang dikendalikan secara otomatis. Fungsinya untuk berusaha menyelidiki, mengetahui keadaan di planet itu. Alat penjelajah akan didaratkan di wilayah kawah Gale, dekat gunung yang tingginya 5 kilometer. Pembuatan laboratorium yang dikenal dengan nama Mars Science Laboratory tersebut memakan dana tak kurang dari 2,5 miliar dollar AS.

sumber : kompas.com

Dua Hujan Meteor di Malam Bulan Ramadhan


SKYANDTELESCOPE

KOMPAS.com - Dua hujan meteor akan memuncak di malam Ramadhan tepatnya pada Sabtu, 13 Agustus 2011, yakni hujan meteor Perseids dan Delta Aquarids. Kedua hujan meteor tersebut akan dilengkapi dengan bulan purnama, yang sayangnya justru mengganggu pandangan ke hujan meteor.

Puncak hujan meteor Delta Aguarids akan terjadi saat puncak hujan meteor Perseids dimulai. Keduanya akan menghasilkan 15 hingga 30 bintang jatuh per jam. "Meskipun ada bulan terang yang menjadi tamu, orang tetap bisa melihat hujan Delta Aquarids," kata Raminder Singh Samra, astronom dari H.R. MacMillan Space Centre di Vancouver, Kanada.

Perseids akan dimulai dengan sekitar lima meteor per jam. Mereka dapat dilihat dua minggu sebelum pertengahan agustus. Saat puncak hujan meteor rata-rata ada 60 hingga 120 meteor. Pengamatan dapat dilakukan mulai pukul 2 dini hari sampai subuh. Rasi Perseus berada di arah timur laut dengan ketinggian 30 derajat. Sementara itu, aktivitas Delta Aquarids akan terjadi akhir Juli dan awal Agustus.

Hampir seluruh orang di dunia dapat melihat hujan meteor ini. Hujan dapat terlihat dengan jelas di daerah yang gelap, jauh dari gemerlap kota. "Karena bintang jauh akan terjadi di seluruh angkasa yang terlihat, berbaringlah dan biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan," Samra memberi saran.

Hujan meteor Delta Aquarids dan Perseids terjadi karena atmosfer Bumi menghampiri awan yang terbentuk dari butiran-butiran partikel yang dilepaskan komet. Setiap partikel masuk ke atmosfer dengan kecepatan 150.000 kilometer per jam sehingga terbakar dan menghasilkan cahaya.

sumber : kompas.com

Minggu, 17 Juli 2011

Jejak Api di Langit Bekasi

Kamis (14/7) sore lalu, beberapa media memberitakan jejak menyala di atas langit Bekasi. Sejumlah foto yang diambil warga pun beredar, sayangnya tak cukup jelas sehingga tak terlihat seperti apa gerangan jejaknya.

Tetapi, seorang anggota milis CikarangBaru@yahoogroups.com, Firman Alamsyah, memotret jejak di langit itu. Ia menyesal tak membawa lensa kamera yang lebih baik, namun sejumlah hasil fotonya cukup menunjukkan pergerakan benda itu.

Firman, sore itu, sedang berkendara menuju Jalan Inspeksi Tarum Barat, Bekasi. Ia melihat nyala di atas dengan gerak menukik. "Posisinya sekitar 10 derajat ke arah selatan dari arah barat. Ketinggian awal sekitar 40-45 derajat dan turun ke hampir 30 derajat," kata Firman kepada anggota milis CikarangBaru.

Mencoba menganalisis, Firman mengatakan nyala benda itu mungkin karena pengaruh sinar matahari juga, yang saat itu tengah terbenam, meski ia tak yakin juga akan pendapatnya itu.

Lihat fotonya:



Setelah dicrop.

Setelah dicrop.


Apakah itu? Ahli astronomi dan astrofisika dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, menduga itu adalah jejak kondensasi dari pesawat terbang yang memantulkan cahaya matahari senja.

"Saat melewati udara dingin, asap-uap dari mesin pesawat membentuk jejak seperti awan," ujar Thomas, disiarkan detikcom, Jumat (15/7). Situs berita itu, berdasar laporan pembacanya, juga menulis cahaya serupa tampak di Cengkareng, juga seorang yang mengaku melihat pemandangan yang mirip di langit Jimbaran, Bali, hampir pukul setengah enam sore waktu setempat.

Jejak kondensasi asap-uap itu, Thomas melanjutkan, memantulkan cahaya matahari senja.

Terlebih lagi, kata Thomas, kondisi atmosfer atas yang dingin saat kemarau memungkinkan fenomena ini tampak di beberapa tempat yang menjadi jalur penerbangan.

Untuk melihat foto-foto lainnya dari Firman Alamsyah, lihat di sini: Slideshow: Jejak Api di Langit Bekasi.


sumber : yahoo.com