BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 15 April 2011

Aquarius Akan Pantau Lautan dari Langit

NASA Aquarius

Sesuai nama Dewa Laut dalam mitologi Yunani, wahana satelit terbaru NASA yang diberi nama Aquarius akan segera diluncurkan dan digunakan untuk memantau kondisi lautan. Pada 9 Juni mendatang, NASA berencana meluncurkan wahana ruang angkasa terbarunya itu.

Satelit baru ini akan sangat bermanfaat bagi para ilmuwan yang mempelajari siklus air di bumi serta hubungannya dengan arus laut dan iklim. Aquarius memetakan konsentrasi larutan garam di permukaan laut yang akan melengkapi data hasil pengamatan temperatur permukaan laut yang telah lebih dulu dimonitor melalui satelit.

Aquarius juga akan menyediakan data terkini tentang kadar garam di lautan sehingga para ilmuwan dapat memahami kaitan kadar garam dengan curah hujan dan penguapan, atau pencairan dan pembekuan es, serta pengaruhnya terhadap perbedaan iklim.

Aquarius dilengkapi dengan instrumen radiometer gelombang mikro, sebuah komponen yang dikembangkan untuk mengukur kadar garam dari luar angkasa. "Radiometer ini adalah radiometer paling stabil dan akurat yang dikembangkan untuk melakukan pemantauan dari luar angkasa," kata Shannon Rodriguez-Sanabria, seorang spesialis komunikasi gelombang mikro di Goddard Space Flight Center, NASA, Greenbelt, Md.

Selama melakukan misinya, Aquarius akan mengumpulkan data secara terus-menerus ketika terbang pada orbit dekat-kutub dan mengelilingi bumi 14-15 kali sehari. Sudut pandang instrumennya yang mencapai bentangan selebar 390 kilometer akan memasok peta global setiap tujuh hari. Data ini kemudian digabungkan untuk menghasilkan data bulanan yang lebih akurat selama misi berlangsung serta dirancang agar bisa jadi acuan minimal dalam jangka waktu tiga tahun

Minggu, 10 April 2011

Macam-Macam Hujan Meteor yang Sering Menghantam Bumi



1. Hujan meteor Orionid

Hujan meteor orionid muncul tiap tahun, dan puncaknya di sekitar tanggal 21 Oktober. Hujan meteor ini sangat jelas terlihat dan tampak sampai 20 meteor hijau dan kuning tiap jamnya. Orionid adalah nama cahaya meteor yang berada di langit di tempat titik mereka berasal.

http://arif-nma.com/wp-content/uploads/2010/10/orionid.jpg

Meteor ini bisa dilihat di seluruh penjuru langit tapi garis pergerakan mereka akan selalu menunjuk ke arah cahaya. Cahaya meteor orionid terletak di dekat konstelasi Orion.

Dan hujan meteornya disebabkan oleh Komet Halley yang orbitnya sekitar 75-76 tahunan.

Gambar di atas adalah meteor orionid yang berada di bawah galaksi bimasakti dan di sebelah konstelasi Venus.


2. Hujan meteor Perseid

Meteor Perseid adalah meteor yang mungkin bisa kita lihat paling jelas dan biasanya terlihat di belahan bumi bagian utara pada saat malam di musim panas yang hangat. Terang dan banyak, perseid dikaitkan dengan komet swift-tuttle yng menakjubkan.

http://www.indonesiafirst.com/wp-content/uploads/2010/08/meteor-perseid.jpg

Meteor ini tampaknya berasal dari sebuah cahaya di rasi Perseus dan terjadi ketika bumi melewati aliran meteor yang dikenal dengan nama awan perseid yang sebenarnya adalah residu dari ekor komet swift-tuttle.

Sebagian besar debu dari awan Perseid berumur ribuan tahun, walaupun ada beberapa diantaranya adalah debu muda yang menguap dari komet pada tahun 1862.

Hujan meteor perseid telah diamati sekitar 200 tahun lalu dan biasanya terlihat mulai pertengahan Juli dan puncaknya pada tanggal 12 Agustus tiap tahunnya.


3. Geminid meteor shower

Meteor ini bukan seperti meteor lain yang lahir dari sebuah komet, melainkan mereka berasal dari sebudah asteroid, yaitu sebuah planetoid berbatu di dekat bumi yang bernama Phaeton 3200.

http://laist.com/attachments/la_carrie/meteor%20shower.jpg

Pada umumnya asteroid tidak menghasilkan debu ke angkasa dan bahkan diperkirakan asteroid ini sebelumnya adalah sebuah komet.

Orbit Phaeton berbentuk elips seperti komet dan bahkan yang membawanya mendekati matahari melebihi orbit merkurius.

Geminid pertama muncul 150 tahun yang lalu, dan semenjak itu mereka menghujani bumi secara regular tiap tahun pada pertengahan Desember.

Mereka diperkirakan akan lebih banyak pada tiap tahunnya dan hujan meteor baru-baru ini telah terlihat lebih dari ratusan meteor menghiasi langit.


4. Quadrantid meteor shower

Banyak kilatan meteor yang terlihat pada gambar di bawah ini, meskipin terhalang oleh cahaya hijau aurora disebelah kanannya.

Cahaya merah yang terlihat sebelah kiri merupakan cahaya pesawat astronom NASA DC-8 yang terbang diatas kanada untuk meneliti hujan meteor Quadrantid.

http://blog.oregonlive.com/living_impact/2009/08/large_meteor_9.JPG

Dengan bantuan kamera khusus yang dapat menghasilkan gambar komposit yang menggabungkan eksposur singkat, para peneliti berharap dapat mengetahui dari mana awalnya hujan meteor ini berasal.

Karena kuatnya penampakan meteor ini, pada Januari awal, hujan meteor ini secara tentative diidentifikasikan sebagai planet kecil yang dinamakan planet 2003 EH1.

Kemungkinan meteor ini juga diamati oleh astronom dari cina, jepang dan korea semenjak setengah milenuim lalu. Pada puncak penampakannya, hujan meteor ini akan bisa dilihat kurang dari 1 jam.

Sabtu, 09 April 2011

Cara Jitu Selidiki "Alien"




Universitas Glasgow
Ilustrasi penambangan oleh wahana alien

Ilmuwan kini mengembangkan cara jitu untuk menyelidiki keberadaan alien. Caranya adalah menyelidiki ada atau tidaknya jejak penambangan material di sabuk asteroid. Alien diperkirakan menambang material, seperti emas, platinum, besi, dan silikon, yang terdapat dalam jumlah melimpah di asteroid.

Adalah Dr Duncan Forgan dari University of Edinburgh dan Dr Martin Elvis dari Harvard Smithsonian Center For Astrophysics di Massachusets yang mengembangkan gagasan itu. Menurut mereka, menyelidiki jejak penambangan sangat mudah sebab aktivitas itu akan melepaskan banyak debu berkaitan dengan efek suhu lokal.

Penambangan asteroid akan menimbulkan tiga efek yang secara teori bisa dilihat dari Bumi. Pertama, ilmuwan telah paham rasio unsur yang biasa ditemukan di pecahan sabuk asteroid. Dengan demikian, ilmuwan bisa menentukan wilayah dalam sabuk asteroid yang rasio unsurnya berbeda menggunakan spektroskopi.

Kedua, alien akan cenderung menambang sabuk asteroid besar sebab lebih banyak unsur dan mineral yang bisa diperoleh. Ketiga, penambangan asteroid akan menghasilkan debu dalam jumlah besar yang akan mengambil panas dari bintang terdekat, menghasilkan anomali suhu yang bisa dideteksi.

Forgan dan Elvis mengklaim bahwa dengan menyelidiki penambangan material itu, kemungkinan menemukan makhluk luar angkasa akan lebih tinggi. Meski demikian, ia mengakui bahwa perubahan pada sabuk asteroid juga bisa terjadi secara alami.

Intinya, menyelidiki hal tersebut akan meningkatkan kesempatan menemukan alien. Dalam makalahnya, kedua ilmuwan menulis, "Kami menemukan bahwa tanda penambangan asteroid bisa dijelaskan dengan fenomena alam dan dengan demikian hal itu tidak bisa mendeteksi adanya makhluk ektraterestrial secara konklusif."

Di tata surya, sabuk asteroid terdapat di antara Planet Mars dan Jupiter. Sementara itu, sabuk asteroid juga terdapat di tata surya lain, disebut Epsilon Eridani System. Di kedua sabuk asteroid itulah penambangan material oleh alien kemungkinan dilakukan... bila mereka ada.

Ditemukan Mineral Baru di Meteorit


NIPR Meteorit Yamato.

Ilmuwan NASA beserta partner risetnya dari Korea Selatan dan Jepang berhasil mengidentifikasi adanya mineral baru di meteorit Yamato 691, meteorit berusia 4,5 miliar tahun yang ditemukan di Antartika pada tahun 1969. Mineral baru tersebut dinamai Wassonite.

Namanya diambil sebagai penghargaan pada Johnson T Wasson, profesor dari UCLA (University California, Los Angeles) yang dikenal dengan hasil penelitian tentang meteorit. Identitas baru mineral telah disetujui oleh International Mineralogical Association.

Ilmuwan NASA Keiko Nakamura mengatakan, "Wassonite adalah mineral yang hanya terbentuk dari 2 unsur, sulfur dan titanium. Meski demikian, mineral ini memiliki struktur kristal unik yang belum pernah ditemukan di alam."

Identifikasi struktur kristal Wassonite dimungkinkan berkat kemajuan nanoteknologi di salah satu departemen Johnson Space Center NASA. Sifat kimia dan struktur atom dilihat dengan bantuan mikroskop elektron.

Lindsay Keller dari Johnson Space Center NASA mengungkapkan, "Meteorit dan mineral yang terdapat di dalamnya adalah jendela memahami tata surya. Dengan menelitinya, kita bisa paham kondisi tata surya kini dan proses yang akan berlangsung."

Meteorit Yamato 691 adalah sebuah meteorit yang diperkirakan berasal dari asteroid di antara Mars dan Jupiter. Meteorit tersebut ditemukan oleh anggota Japanese Antarctic Research Expedition di Gunung Yamato.

"Merapi-Merbabu" di Mars


ESA/DLR/FU Berlin (G. Neukum) Dua gunung Ceranus Tholus dan Uranius Tholus di belahan utara Planet Mars

Tak cuma Bumi yang memiliki gunung bertetangga seperti Merapi dan Merbabu, Mars pun demikian. Baru-baru ini, European Space Agency (ESA) merilis citra gunung bertetangga yang terletak di belahan utara planet merah.

Dua gunung tersebut adalah Ceraunius Tholus dan Uranius Tholus. Ceraunius Tholus adalah gunung yang lebih besar dengan wilayah merentang selebar 130 km, tinggi menjulang 5,5 km, dan caldera yang berdiameter 25 km.

Pada gambar tampak puncak Ceraunius Tholus berwarna kelabu, sementara bagian lain yang berwarna violet adalah Kawah Rahe yang berukuran 35 x 18 km. Kawah tersebut diduga terbentuk akibat meteorit.

Uranius Tholus yang lebih kecil berada di 60 km sebelah utara Ceraunius Tholus. Diameter dasar Uranius Tholus mencapai 62 km dengan tinggi 4,5 km. Kawah berdiameter 13 km bisa dilihat di sebelah barat Uranius Tholus.

Bagian dasar caldera yang halus di puncak Ceraunius Tholus mengindikasikan bahwa saat atmosfer Mars berdensitas lebih tinggi, bagian itu merupakan danau. Dugaan lain, caldera bisa hasil pelelehan es yang terbentuk di bawah permukaan.

Selain kedua gunung ini, Mars juga memiliki gunung yang dikenal terbesar di tata surya, yakni Olympus. Pada tahun 2004, Mars Express memberikan gambaran detail gunung-gunung di Mars.

Roket Gagarin Sampai Stasiun Antariksa


NASA TV
Gagarin saat mendekati Stasiun Antariksa.

Roket Soyuz TMA-21 milik Rusia yang diberi nama khusus Gagarin sukses bergabung ke Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Wahana ruang angkasa tersebut membawa kapsul berisi tiga awak yang akan bertugas di ruang angkasa selama enam bulan ke depan.

Gagarin diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur, Kazakhstan, pada 4 April 2011 lalu dari landasan pacu saat sama dengan roket yang membawa Yuri Gagarin melesat ke ruang angkasa pada 12 April 1961 dengan roket Vostok. Gagarin tercatat sebagai orang pertama di dunia yang mencapai luar angkasa. Peluncuran tersebut sekaligus memperingati 50 tahun misi berawak Rusia.

Kalau 50 tahun yang lalu, roket hanya membawa satu awak, kali ini roket bisa membawa tiga awak sekaligus dan telah menjadi alat transportasi antara Bumi dan stasiun antariksa. Roket luar angkasa Gagarin membawa dua kosmonot Rusia, Alexander Samoukutyaev dan Andrey Borisenko, serta seorang astronot NASA Ron Gagan. Ketiganya akan menggantikan tugas di stasiun antariksa sampai September 2011 mendatang.

Saat memecahkan rekor menjadi orang pertama di luar angkasa, Gagarin hanya mengorbit Bumi satu putaran saja. Kapsul yang membawanya mendarat dengan aman 108 menit sejak peluncuran dilakukan. Kini, misi luar angkasa bisa dilakukan jauh lebih lama berkat perkembangan teknologi. Sayang, Gagarin tidak sempat melihat kelanjutan pengembangan misi antariksa karena ia tewas mendadak setelah pesawat latih yang ditumpanginya mengalami kecelakaan pada tahun 1968. Gagarin mati muda di usia 34 tahun.

Ayo Ramaikan "Global Star Party"

Seorang astronom sedang memotret gerhana bulan di Observatorium Bosscha pada dini hari.

Memperingati Bulan Astronomi Global (GAM) 2011 pada bulan April, komunitas pecinta astronomi global serentak mengadakan Global Star Party. Gerakan tersebut akan diisi kegiatan mengamati obyek langit malam dan pengenalan astronomi.

Di Jakarta, acara diadakan Himpunan Astronom Amatir Jakarta di timur Lapangan Monas, Sabtu (9/4/2011) malam. Karena di tengah kota, kegiatan fokus pada pengamatan Bulan serta mengampanyekan pentingnya langit gelap untuk pengamatan astronomi. Di Bandung, diselenggarakan di Dago Tea House oleh komunitas Langit Selatan.

Sebelumnya komunitas Jogja Astro Club (JAC) di Yogyakarta juga menyelenggarakan pengamatan benda langit secara khusus pada Earth Hour Day menyambut kampanye tersebut. Salah satu kampanye kegiatan ini adalah mengajak masyarakat untuk mengurangi lampu penerangan di malam hari agar tidak mengganggu pemandangan langit di malam hari.