BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 04 April 2011

Reaksi Nuklir Alami Juga Terjadi di Mars



NASA/JPL-Caltech/University of Arizona
Kawah Rabe yang berwarna biru di Planet Merah.

Dr John Brandenburg, ilmuwan senior di Orbital Technologies Corporation mengutarakan pendapat bahwa reaksi nuklir secara alami juga terdapat di Mars. Reaksi nuklir itulah yang menyebabkan planet Mars berwarna merah.

Seperti dikutip Foxnews (1/4/2011), Brandenburg mengatakan, "Permukaan Mars punya lapisan tipis senyawa radioaktif, meliputi uranium, thorium dan potassium radioaktif. Radiasi muncul dari zona tertentu di Mars."

"Ledakan nuklir bisa menyebarkan debu ke seluruh planet. Citra sinar gamma menunjukkan adanya bintik merah besar seperti debu radioaktif. Di bagian Mars lain juga terdapat bintik merah," lajut Brandenburg.

Brandenburg berpendapat, ledakan yang setara dengan 1 juta kali 1 megaton bom hidrogen pernah terjadi di wilayah Mars bernama Mare Acidalium, sebuah wilayah yang punya konsentrasi radioaktif tinggi.

Ledakan itu mengisi atmosfer Mars dengan radioisotop. Selain itu, Brandenburg mengatakan bahwa ledakan nuklir alami juga telah melalap semua yang ada di permukaan Mars sehingga permukan planet itu kini dipenuhi pasir kering.

Menanggapi pendapat Brandenburg, manajer program penelitian Mars di Jet Propulsion Laboratory NASA Dr David Beaty mengatakan bahwa pendapat itu mengagumkan, namun masih harus dibuktikan kebenarannya.

Mengekspresikan keraguan, ia mengatakan bahwa geologi Mars telah bertahan selama ribuan tahun. Apa yang ada di Mars sekarang juga telah ada dalam jangka waktu lama, hanya terdapat perubahan kecil.

Sementara, Dr Lars Borg dari Lawrence Livermore National Lab mengatakan, pendapat Brandenburg tak mengejutkan. Apa yang disebut Brandenburg sebagai reaksi nuklir sebenarnya adalah proses geologis biasa.

"Kami meneliti meteorit Mars selama 15 tahun dan melihat pengukuran isotop secara detail. Tak cuma satu dari 100 orang yang berpendapat ini berkaitan dengan adanya ledakan nuklir di sana," katanya.

Brandenburg yang pernah bekerja di Livermore mempertahankan pendapatnya. Ia mengatakan bahwa sebenarnya terdapat beberapa ahli yang tak bisa disebutkan namanya sebenarnya menyetujui pendapatnya.

Lebih mengejutkan, Brandenburg berpendapat bahwa reaksi nuklir alami juga terdapat di Bumi. Salah satu wilayah Afrika bernama The Oklo, Gabon memiliki sedimen berlapis uranium yang berasal dari ledakan nuklir 2 milyar tahun lalu.

Brandenburg berpendapat, data radiasi sinar gamma menunjukkan peningkatan radiasi Xenon-129 di Mars beberapa tahun terakhir. Gejala sama juga terjadi di Bumi setelah bencana nuklir di Chernobyl tahun 1986 dan krisis Nuklir di Jepang.

Hujan Meteorit Bikin Bumi Super Dingin


Bumi ternyata sempat mengalami masa superdingin di masa awal pembentukan planet sekitar 4 miliar tahun lalu. Hal tersebut kemungkinan dipengaruhi meteorit-meteorit kecil yang memborbardir Bumi.

Ilmuwan dari Imperial College London, Inggris, mempelajari efek Late Heavy Bombardment (LHB), periode awal tata surya di mana Bumi dibombardir oleh meteorit-meteorit kecil itu. Studi tersebut dipimpin oleh Dr Richard Court dari Department of Earth Science and Engineering universitas tersebut.

Berdasarkan studi itu, diketahui bahwa bombardir meteorit-meteorit mikro yang terjadi 4 miliar tahun yang lalu itu menyebabkan suhu Bumi jauh lebih dingin dari semula sehingga bisa menghambat kehidupan. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Geochimica et Cosmochimica Acta 1 April 2011 lalu.

Bagaimana mekanismenya? Ketika masuk ke atmosfer Bumi, meteorit akan terpanaskan hingga suhu 1000 derajat Celsius. Pada saat itulah, meteorit terbakar dan melepaskan beragam macam gas, salah satunya adalah sulfur dioksida yang kemudian membentuk aerosol.

Aerosol memiliki sifat menghalangi cahaya dan panas Matahari masuk ke Bumi. Ketika banyak meteorit yang melepaskan sulfur dioksida yang menjadi aerosol, maka konsentrasi senyawa tersebut di atmosfer meningkat. Akibatnya Bumi menerima panas yang lebih sedikit dan menjadi lebih dingin.

Tim peneliti menggambarkan, efek pendinginan yang terjadi bisa disetarakan dengan efek "erupsi gunung Pinatubo tahun 1991 yang terjadi setiap tahun selama jangka waktu 100 juta tahun". Gunung Pinatubo sendiri dalam erupsi tersebut melepaskan 17 juta ton sulfur dioksida dan menghalangi 10 persen panas matahari.

Konsentrasi sulfur dioksida akibat bombardir meteorit, berpadu dengan panas matahari saat itu yang 30 persen lebih kecil dari sekarang, mengakibatkan kondisi super dingin. Aklibatnya, mikroba primitif sulit untuk bertahan. Di sini, tampak bahwa pendinginan mengakibatkan bencana global dan menghambat kehidupan.

Peneliti mengatakan, hal yang sama tak cuma terjadi di Bumi, tetapi juga di Mars. Diketahui, bombardir meteorit menyebabkan akumulasi sulfur dioksida sebanyak 500 ribu ton tiap tahun pada periode yang sama di Mars. Efek pendinginannya sekitar 1/34 erupsi efek Pinatubo tiap tahun selama 100 tahun.

"Meteorit kecil sebesar gula pasir ini adalah materi yang tertinggal dalam periode awal tata aurya, membantu terbentuknya Bumi dan Mars. Studi kami fokus pada bagaimana meteorit kecil ini juga bisa mengakibatkan bencana skala global di Bumi dan Mars," kata Court.

Studi Court merupakan kelanjutan dari studi sebelumnya yang menyatakan bahwa meteorit bukan sumber metana di atmosfer Mars, meningkatkan harapan bahwa metana bisa saja muncul dari makhluk hidup di Mars. Hasil penelitian juga mendeskripsikan bagaimana meteorit membawa gas yang membuat Bumi bisa dihuni.

Tidak diuraikan mekanisme dari Bumi dan Mars yang pernah mengalami pendinginan itu bisa menghangat lagi. Namun, ke depan penelitian akan tetap dilanjutkan untuk mengkaji konstribusi gas yang berasal dari meteorit pada planet-planet di luar tata surya.

Sabtu, 02 April 2011

Parah, Polusi Cahaya di Kota Besar Jawa



KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Pemadaman listrik selama satu jam pada peringatan Earth Hour di Kawasan Monumen Nasional, Sabtu (27/3/2010) malam.

KOMPAS.com - Momen Earth Hour yang berlangsung Sabtu malam dimanfaatkan sejumlah astronom amatir untuk merayakan Globe at Night, sebuah gerakan untuk meminimalisir polusi cahaya. Tujuannya tak cuma berkaitan dengan hemat energi dan perubahan iklim, tetapi juga menciptakan langit yang lebih gelap sehingga mendukung kegiatan astronomi.

Pengamatan diantaranya digelar di Yogyakarta oleh Jogja Astro Club. Mutoha Arkanuddin, salah satu anggota komunitas tersebut mengatakan, pengamatan berhasil mengidentifikasi bintang pada magnitud 3. Terdapat magnitud 1 hingga 7 untuk mengukur kegelapan dan kecerahan langit malam, semakin tinggi magnitud maka semakin banyak bintang yang terlihat.

Di Jakarta, pengamatan dilakukan oleh Himpunan Astronom amatir Jakarta (HAAJ). Sayangnya, langit mendung sehingga tak satu pun bintang bisa teramati. Hal serupa terjadi di Bandung. Avivah Yamani dari Langit Selatan mengatakan, "Tadi malam saya nggak pengamatan ya. Masalahnya kan di sini mendung dan hujan deras, jadi pengamatan nggak bisa dilakukan," ungkapnya.

Meski beberapa pengamatan gagal dilakukan, namun komunitas astronom tersebut bertutur tentang polusi cahaya di kotanya. Mutoha misalnya, mengatakan, "Kalau kita lihat, polusi cahaya di kota Jogja ini sudah cukup parah karena kita hanya bisa lihat hingga magnitud 3." Wilayah yang masih mendukung pengamatan adalah selatan Yogyakarta dan Gunung Kidul.

Sementara Muhammad Rayhan dari HAAJ juga mengatakan bahwa polusi cahaya di Jakarta sudah seperti tak tertolong lagi. Avivah mengatakan, "Polusi cahaya kalau di Bandung itu parah karena ada mall banyak. Selain itu ada tempat wisata, factory outlet, kafe, itu kan sampai tengah malam. Jadi sampai malam itu kota itu masih terang benderang."

Sumber polusi cahaya, selain dari perumahan juga dari penerangan jalan. Menanggulangi polusi cahaya bisa dimulai dari rumah. Avivah mencontohkan, "Paling mudah untuk meminimalisir polusi cahaya adalah memakai cup pada lampu. Dengan cup, cahaya hanya terfokus ke daerah tertentu, tidak ke langit. Ini sudah membantu meminimalkan"

Selain itu, ia mengatakan bahwa sumber cahaya yang ada di jalan sebenarnya bisa dimatikan setelah lewat tengah malam. "Dari baliho iklan itu kan kalau malam mungkin juga sudah tidak ada yang melihat. Itu bisa dimatikan setelah jam 12 malam," papar Avivah yang juga mengelola situs astronomi langitselatan.com.

Menanggulangi polusi cahaya, selain mencapai misi Globe at Night juga selaras dengan Earth Hour. Mengurangi polusi cahaya dengan cara mematikan lampu saat tak diperlukan dan membatasi pengadaan lampu dalam jumlah yang tak diperlukan juga akan mengurangi energi listrik. Ini berarti juga ikut menanggulangi dampak perubahan iklim.

Messenger Tangkap Citra Kawah Merkurius



Permukaan Planet Merkurius dalam citra yang diambil wahana ruang angkasa Messenger.

Wahana luar angkasa Messenger yang mulai mengorbit Merkurius pada tanggal 17 Maret 2011 berhasil menangkap citra pertama planet terdalam di tata surya itu. Citra tersebut menunjukkan belahan selatan Merkurius, sebuah wilayah yang didominasi oleh kawah bekas tumbukan.

Messenger menangkap foto tersebut pada Selasa (29/3/2011) sore WIB. "Foto ini merupakan foto pertama yang pernah diambil oleh wahana luar angkasa yang mengorbit planet terdalam tata surya ini," kata salah seorang ilmuwan yang menjalankan misi ini.

Pada bagian atas citra tersebut, tampak kawah selebar 85 kilometer bernama Debussy. Sebuah cahaya terang tampak muncul dari tengah kawah tersebut. Di sebelah barat Debussy, terdapat kawah lain yang lebih kecil dan selebar 15 kilometer bernama Matabei. Kawah ini dikenal dengan kegelapannya yang tak biasa.

Citra tersebut telah di-posting ke situs misi Messenger yang dikelola oleh John Hopkins University Applied Physics Laboratory. Citra itu adalah satu di antara 363 citra yang diambil dalam 6 jam pertama observasi Messenger. Diharapkan, Messenger bisa mengambil citra wilayah yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.

Messenger masuk ke orbit Merkurius setelah 6,5 tahun perjalanan. Kini, wahana luar angkasa itu mengelilingi planet terdekat dari Matahari dalam orbit elips dengan jarak terdekat 200 kilometer dan terjauh 15.000 kilometer. Messenger yang berbiaya 446 juta dollar AS akan mengorbit dan melakukan studi Merkurius selama 1 tahun Bumi.

Penelitian ilmiah Merkurius akan dimulai pada 4 April mendatang, di mana Messenger akan mulai memetakan seluruh permukaan planet terdalam Bumi itu. Pemetaan tersebut setidaknya membutuhkan 75.000 citra Merkurius. Dengan penelitian ini, diharapkan misteri tentang geologi, sejarah, dan pembentukan Merkurius bisa terjawab.

Messenger adalah singkatan dari Mercury Surface, Space Environment, Geochemistry, and Ranging. Meskipun Messenger adalah wahana pertama yang mengorbit Merkurius, ia bukan wahana pertama yang mendatangi planet itu. Sebelumnya, wahana luar angkasa Mariner 10 pernah melewati Merkurius tiga kali pada tahun 70-an.

Adakah Air di Merkurius ?


NASA
Permukaan Planet Merkurius dalam citra yang diambil wahana ruang angkasa Messenger.

Observasi Merkurius akan dimulai secara resmi pada 4 April 2011 mendatang dengan bantuan wahana luar angkasa Messenger yang sudah mengorbit di planet tersebut. Pemetaan seluruh permukaan Merkurius akan dilakukan untuk menguak misteri geologi, sejarah, dan pembentukan planet itu.

Salah satu pertanyaan yang mengemuka dalam observasi Merkurius adalah adakah air dalam bentuk es di planet itu? Dengan suhu Merkurius yang mencapai 450 derajat celsius, pertanyaan itu mungkin terkesan konyol.

Namun, Sean Solomon, pimpinan investigator Messenger, mengatakan adanya kemungkinan itu. "Bisakah es terjebak di sana? Model suhu mengatakan ya, itu mungkin. Tapi apakah es tersebut berbahan dasar air? Ada banyak spekulasi," katanya.

Sementara itu, 20 tahun lalu pernah ada data radar menemukan material reflektif di wilayah kutub planet terdekat dari Matahari itu. Material reflektif itu bisa saja air dalam bentuk es.

Jawaban positifnya mungkin akan diketahui dalam jangka waktu setahun mendatang ketika Messenger berhasil menuntaskan misinya. Bersamaan dengan itu, mungkin akan diketahui struktur inti dan alasan mengapa Merkurius berdensitas lebih rendah.

Messenger sendiri telah sampai di orbit Merkurius sejak 17 Maret 2011 setelah menempuh perjalanan selama 6,5 tahun. Wahana luar angkasa ini 2 hari lalu baru saja mengirimkan citra Merkurius berupa kawah Debussy dan Matabei.

Messenger adalah singkatan dari MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry, and Ranging. Misinya bukanlah misi berbiaya murah sebab dana pembuatannya mencapai 446 juta dollar AS

Senin, 28 Maret 2011

Misteri Arca Berusia 200.000 Tahun Yang Ditemukan Di Bulan





Sebuah catatan saintis baru saja dirilis yang membuktikan bahwa permukaan bulan pernah dihuni kehidupan cerdas. Hal itu dibuktikan dari penemuan sebuah arca 10 inci di atas batu karang bulan.

Pakar Geologi Dr. Morris Charles mengungkapkan beberapa waktu lalu bahwa para ilmuwan daru laboratorium NASA telah membawa sebuah batu dari misi Apollo 11 40 tahun silam, tahun 1969. Dr. Charles adalah seorang ilmuwan dari NASA selama 23 tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri. Tapi ia tetap menjaga hubungan dengan lembaga tempat ia bekerja dulu.

“Figur arca itu menggugah rasa keingin tahuan kita. Artinya pada suatu waktu atmosfer di bulan sangat mendukung kehidupan. Lebih dari itu, arca itu juga menunjukkan dari rasa estetika seni yang indah dari orang-orang yang membuatnya,”kata Dr.Charles kepada reporter.

Arca yang disebut sebagai “Angel” atau bidadari itu terbuat dari kombinasi besi khusus ditemukan ekslusif di sebuah tempat di ketinggian di bulan. Angel adalah arca bersosok perempuan memiliki sayap di bagian belakang dan rambut bergelombang panjang.

Ada kemungkinan arca angel didatangkan dari planet lain. Berdasar analisis kimia logam, pakar Geologi menduga bahwa arca itu berusia lebih dari 200.000 tahun, yang berarti kemungkinan ia dibuat 170.000 tahun sebelum spesis manusia muncul di bumi.

Dr. Miles Fredericks dari Universitas New York menyebutkan teori tentang legenda orang Sumeria yang menyebutkan Annunaki, dewa-dewa bersayap, yang berasal dari abad 18 SM. Mungkin orang Sumeria pernah dikunjungi penghuni bulan, yang sosoknya dijadikan imej dari arca Angel.

Walaupun banyak yang memikirkan misteri figur Angel tetapi sebagian orang menyayangkan mengapa rahasia itu disimpan begitu lama. “Artifak ini telah menjadi rahasia umum di kalangan dalam NASA selama bertahun-tahun. Tapi pejabat tinggi NASA menyimpan rahasia ini untuk mencegah kepanikan dunia.

Minggu, 27 Maret 2011

Astronom Jogja Rekam Cincin Saturnus



NASA
Planet Saturnus dan cincinnya

Bila para aktivis lingkungan memiliki perayaan Earth Hour, maka kalangan astronom pun memiliki perayaan disebut Globe at Night. Memiliki visi hampir serupa, Globe at Night mengajak masyarakat untuk peduli dengan dampak polusi cahaya terhadap lingkungan. Selain boros energi, cahaya artifisial seperti lampu merusak keindahan langit malam, mengikis kesempatan melihat banyak bintang dan mengganggu aktivitas astronomi.

Semalam, komunitas astronom amatir Jogja Astro Club (JAC) melakukan pembukaan perayaan tersebut. Pembukaan perayaan berlangsung bersamaan dengan acara Earth Hour yang juga diselenggarakan di kota gudeg itu. Dalam acara pembukaan, JAC mengajak anggota komunitas dan masyarakat setempat untuk mematikan lampu mendukung perayaan Earth Hour, melakukan pengamatan dan menonton film-film bertema astronomi.

Pengamatan oleh anggota JAC dilakukan mulai pukul 20.00-23.00. Sesuai kegiatan wajib dalam Globe at Night, dengan 5 buah teleskop para anggota komunitas itu melakukan pengamatan bintang di rasi Crux dan melaporkannya sehingga bisa menjadi database global. Pengamatan tambahan juga dilakukan pada benda-benda langit lain yang terlihat, seperti planet, komet, dan satelit.

Anggota JAC Mutoha Arkanuddin yang turut melakukan pengamatan mengatakan, "Dari observasi semalam, kita bisa mendapatkan citra cincin Saturnus beserta bulan planet tersebut. Selain itu kita juga berhasil tangkap citra yang disebut kotak mutiara di rasi Crux dan sistem bintang ganda Alpha Centauri." Dalam video reakaman itu, Saturnus beserta cincinnya tampak berwarna putih dan seperti UFO.

Mutoha menuturkan, banyak yang hal yang mengejutkan dan bisa dipelajari dari pengamatan tersebut. Misalnya, ia mengatakan bahwa banyak yang semula tak mengerti bahwa Alpha Centauri adalah sistem bintang ganda bisa paham dalam pengamatan ini. "Lalu menjelang akhir pengamatan itu saya lihat meteor. Saya sampai teriak itu," katanya saat dihubungi Kompas.com hari ini.

Sementara itu, pengamatan bintang di rasi Crux juga berhasil dilakukan. Mutoha tidak menyebutkan jumlah bintang yang berhasil teramati, namun ia mengatakan, "Kita berhasil identifikasi bintangnya pada magnitud 3. Untuk magnitud 4 dan 5 kita sudah tidak bisa identifikasi." Ia mengatakan belum bisa membandingkan dengan hasil pengamatan pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan hasil pengamatan, Mutoha mengatakan, "Kalau kita lihat, polusi cahaya di kota Jogja ini sudah cukup parah karena kita hanya bisa lihat hingga magnitud 3." Ia menuturkan, dalam kondisi langit gelap dan cerah, bintang bisa teramati hingga magnitud 5. Menurutnya, kondisi tersebut masih bisa didapatkan di wilayah Yogyakarta bagian selatan dan kabupaten Gunung Kidul.

Dewasa ini, dengan semakin banyaknya wilayah tumbuh menjadi perkotaan, polusi cahaya artifisial akibat lampu semakin besar. Salah satu akibatnya adalah makin sedikitnya orang yang bisa menikmati pemandangan langit gelap beserta benda langitnya yang tampak jelas. Apa yang terjadi di Yogyakarta bisa dijumpai pula di kota-kota besar lain seperti Bandung, Jakarta dan Surabaya.

Globe at Night sendiri merupakan perayaan global layaknya Earth Hour. Globe at Night mengajak masyarakat untuk mengamati bintang di rasi Leo atau Crux dan melaporkannya ke situs globeatnight.org dan membandingkannya dengan hasil pengamatan di daerah lain. Di belahan bumi utara, perayaan Globe at Night dilakukan setiap tanggal 22 Maret-4 april sementara di belahan bumi selatan tiap tanggal 24 Maret-6 April.