BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 06 Januari 2011

Lebih Jelas Mengamati Korona Matahari

SHUTTERSTOCK
Gerhana Matahari Total

Selama gerhana matahari total, manusia akan melihat kilauan cahaya di sekeliling matahari yang sedang tertutupi. Cahaya tersebut merepresentasikan bagian korona, lapisan atmosfer matahari yang justru lebih panas dari permukaan matahari sendiri.

Selama ini, bagian korona dipelajari para astronom dengan alat bernama coronagraph. Caranya dengan menutupi bagian tengah matahari sehingga korona bisa terlihat. Tetapi, cara tersebut punya kelemahan, yakni tertutupinya bagian sekeliling matahari sehingga hanya lapisan terluar korona saja yang terlihat.

Kini, ilmuwan dari Smithsonian Institution mengembangkan inovasi teknologi untuk mempelajari korona. Mereka membuat instrumen yang disebut Atmospheric Imaging Assembly (AIA) yang digunakan di Solar Dynamics Observatory (SDO) milik Lembaga Antariksa Amerika Serikat NASA.

Leon Golub dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) mengatakan, "Dengan alat itu, kita bisa mempelajari lapisan korona hingga jauh ke dalam, sampai di permukaan matahari." Alat tersebut juga bisa dioperasikan non stop selama 24 jam 7 hari.

Steven Crammer, astronom CfA mengatakan, "Citra hasil tangkapan AIA dengan kualitas HD bisa menunjukkan struktur dan dinamika korona yang tidak pernah terlihat sebelumnya." Citra tersebut bisa digunakan untuk mempelajari tahap awal fase erupsi Coronal Mass ejection dan angin matahari.

Untuk mendukung aplikasi instrumen tersebut, Crammer dan Alec Engell yang juga dari CfA telah mengembangkan perangkat lunak yang bisa mengolah citra tangkapan AIA. Proses pengolahan citra tangkapannya sendiri meniru fenomena tertutupnya matahari saat gerhana.

SDO yang kini memiliki instrumen AIA merupakan misi pertama NASA dalam mempelajari matahari. Misi ini merupakan bagian dari program NASA bertajuk "Living with the Star". Tujuan misi itu ialah mengembangkan pemahaman untuk mengetahui bagaimana matahari mempengaruhi kehidupan di bumi.

Rabu, 05 Januari 2011

Tanah di Planet Asing Gliese 581g Dijual



EBAYMau dapat sertifikat tanah di Planet Gliese 581g, cari saja di eBay.

Beberapa waktu lalu, seorang wanita Spanyol bernama Angeles Duran mendaftarkan dirinya sebagai pemilik Matahari di kantor notaris negara setempat. Menurut rencana, ia kemudian akan mengenakan tarif pada setiap orang yang menggunakan energi matahari.

Kini, dua orang warga negara Amerika, Jason Connell dan Alison Tippins, mengklaim bahwa mereka memiliki planet Gliese 581g, sebuah planet ekstra surya. Keduanya mengatakan, mereka akan mendaftarkan kepemilikan planet yang baru saja ditemukan itu ke PBB.

Planet Gliese 581g merupakan planet yang terletak di konstelasi Libra dan mengorbit bintang Gliese 581. Para ilmuwan mengatakan, planet itu memiliki ukuran pas dan jarak yang tepat dari bintangnya sehingga menjadikannya berpotensi memiliki air dan menunjang kehidupan, sama seperti Bumi.

Tak hanya memiliki, dua warga negara Amerika yang berprofesi sebagai wirausahawan itu juga telah menjual tanah di planet Gliese 581g di eBay. Jika membuka eBay, Anda bisa melihat planet tersebut dijual dengan harga 20 dollar AS per 4 hektar tanah.

Dalam iklannya, dua orang wirausahawan itu mengatakan, dengan biaya hanya 20 dollar AS tersebut, pembeli sudah akan menerima akta tanah yang disegel resmi, foto kualitas tinggi yang merepresentasikan Gliese 581g dan bintangnya, serta salinan ketentuan di planet tersebut.

Connel dan Tippins juga mengubah nama planet tersebut menjadi Zarmina. Mereka menjual iming-iming agar orang tertarik. Misalnya, mereka menjual sebuah fakta bahwa satu tahun di planet tersebut adalah 37 hari sehingga usia harapan hidup otomatis meningkat menjadi 749 tahun.

Untuk memperjuangkan kepemilikan dan bisa menjualnya, Connel dan Tippins memakai alasan yang sama seperti Angeles Duran. Ketentuan PBB hanya memuat aturan dilarangnya suatu negara memiliki benda langit, tetapi tidak secara jelas melarang individu untuk memilikinya.

Meski fakta tentang planet Gliese 581g sendiri masih menjadi perdebatan, tak bisa dimungkiri penemuannya menyedot banyak perhatian. Temuan planet ini masuk dalam beberapa daftar penemuan terbaik sepanjang 2010, seperti versi Majalah Time, National Geographic, dan Nature.

Ledakan Bintang Berbentuk Kalung Mutiara


NASA, ESA, P. Challis and R. Kirshner (Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics)
Gambar supernova 1987A yang direkam Hubble mirip kalung mutiara.

Kamera teleskop ruang angkasa Hubble merekam sebuah supernova atau ledakan bintang yang dikelilingi rangkaian bulatan putih seperti kalung mutiara yang berkilauan. lebih indah lagi karena di kanan kirinya diapit dua bintang terang yang memencar seperti permata.

Supernova yang diberi nama 1987A tersebut sudah diketahui sejak dua dekade lalu. Namun, bentuknya yang unik tersebut baru terungkap setelah dipotret Hubble pada Desember 2006 lalu.

Di bagian dalam lingkaran berwarna merah muda mungkin materi yang tertinggal saat ledakan dahsyat terjadi. Sementara bagian yang menyala terang di sekelilingnya merupakan lapisan terluar materi yang dipancarkan bintang saat memasuki masa-masa sekarat.

Saat bintang kehabisan energi, terjadi ledakan raksasa dan menghasilkan gelombang kejut yang memanaskan bagian terluar materi tersebut. Hal inilah yang membuat lingkaran terluar menyala terang. Uniknya, bagian terluar yang berpendar membentuk bulatan-bulatan mirip mutiara.

Cincin Matahari akibat Pembelokan Sinar




Pekerja membersihkan tali seling yang digunakan sebagai wahana permainan flying fox yang bersamaan dengan munculnya fenomena alam halo matahari di atas Alun-alun Utara Yogyakarta, Selasa (4/1/2011). Fenomena alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu tersebut terjadi karena kelembaban tinggi di sekitar atmosfer hingga mengakibatkan efek cahaya matahari terpantul melalui prisma air di awan dan membentuk lingkaran pelangi.

Fenomena cincin pelangi matahari muncul selama sekitar dua jam di langit Yogyakarta, Selasa (4/1/2010). Fenomena alam unik ini terjadi karena pembelokan cahaya matahari oleh partikel uap air di atmosfer.

Kepala Laboratorium Hidrometeorologi Fakultas Geografi UGM Sudibyakto mengatakan, kejadian alam yang unik ini merupakan fenomena atmosferik yang biasanya terjadi pada musim hujan. "Pada fenomena ini, cahaya matahari dipantulkan oleh uap air yang naik di atmosfer. Cahaya dipancarkan sehingga terlihat sebagai cincin pelangi," tuturnya.

Selama musim hujan banyak uap air naik ke atmosfer hingga mencapai lapisan troposfer dengan ketinggian lebih kurang 10 40 kilometer (Km). Akibatnya, terjadilah suhu yang sangat dingin di lapisan troposfer, yaitu sekitar minus 30-40 derajat Celsius. Pada saat inilah, uap air di lapisan troposfer ters ebut berfungsi sebagai kaca yang dapat memantulkan cahaya matahari.

Bulan Januari ini Pulau Jawa memang sudah memasuki puncak musim hujan. Curah hujan turun dengan intensitas antara tinggi hingga sangat tinggi. Curah hujan pun terjadi hampir setiap hari dengan waktu cukup lama.

"Jadi, fenomena tersebut sama persis dengan fenomena terbentuknya pelangi, hanya saja kalau pelangi biasanya terjadi pagi atau sore hari, di mana sudut matahari terhadap bumi masih relatif rendah. Sedangkan Cincin Halo itu pada siang hari," ucap Sudibyakto.

Menurut Guru Besar Geografi UGM tersebut, fenomena ini sering disebut sebagai cincin pelangi karena lapisan warnanya mirip pelangi. Hanya saja, warna tersebut tidak selengkap warna pada pelangi. Istilah lain dari cincin disebut halo yang berasal dari bahasa Yunani Kuno artinya lingkaran bulan.

Warna cincin pelangi matahari tak selengkap pelangi ini perbedaan sudutnya. Cincin matahari biasanya terjadi pada siang hari atau saat posisi matahari berada tepat di atas bumi. Sudut yang tegak lurus membuat warna yang terbiaskan tidak selengkap pada pelangi di sore hari yang terjadi dengan sudut tertentu.

Pada lingkaran yang terlihat di Yogyakarta, Selasa (4/1/2010), warna-warna yang terlihat dari lapisan terdalam ke lapisan terluar berturut-turut adalah merah, jingga, kuning, dan hijau.

Pemerhati budaya Yogyakarta Heri Dendi mengatakan, dalam bahasa Jawa, fenomena cincin matahari ini dikenal dengan nama kluwung. "Fenomena ini pernah saya lihat di waktu-waktu dulu, tapi memang jarang," katanya.

Temukan Planet Ekstra Surya Tanpa Teleskop

NASAPlanet di luar tata surya

Astronom amatir berusia 45 tahun bernama Peter Jalowiczor berhasil mengejutkan dunia dengan penemuannya. Tak main-main, ia menemukan empat planet ekstra surya (di luar tata surya) tanpa bantuan teleskop sama sekali.

Empat planet yang ditemukannya adalah HD 31253b yang berjarak 172 tahun cahaya dari Bumi, HD218566b yang berjarak 98 tahun cahaya, HD177830c yang berjarak 190 tahun cahaya, dan HD99492c yang berjarak 58 tahun cahaya.

Jalowiczor menemukan keempat planet tersebut hanya dengan data astronomi Universitas Santa Cruz yang dipublikasikan tahun 2005. Mulai tahun 2007, Jalowiczor menganalisis data tersebut, membuat gambar dan grafik untuk mendeteksi planet.

Ia menggunakan teknik yang disebut Spektroskopi Doppler. "Saya melihat perubahan perilaku pada bintang yang hanya bisa disebabkan oleh planet. Sekali saya mendapatkannya, saya langsung mengirimkan data ke Santa Cruz," paparnya.

Ia memaparkan, "Jika ada planet yang mengorbit bintang, maka akan tampak goyangan kecil pada gerakan bintang itu. Goyangan tersebut menunjukkan keberadaan planet itu sendiri dalam sistem bintang."

Berkat temuannya, nama Jalowiczor bisa tertulis sebagai co-author dalam publikasi ilmiah tentang planet ini di Astrophysical Journal. Sementara pihak lain yang terlibat adalah tim peneliti dari Universitas California.

Jalowiczor yang juga anggota South Yorkshire's Mexborough and Swinton Astronomical Society sangat tersanjung dan terhormat ketika dicantumkan sebagai co-author. Ia berkata, "Semoga hasil kerja saya bisa memotivasi yang lain."

Berkaitan dengan penemuannya, Jalowiczor sendiri merasa terkejut. "Saya suka astronomi sejak kecil, tapi menjadi salah satu penemunya, oh... saya kehilangan kata-kata," ungkapnya.

Publikasi data astronomi oleh Universitas Santa Cruz sendiri memang punya tujuan tertentu. Para ahli berharap, data itu bisa memacu munculnya temuan dari astronom amatir. Adanya temuan oleh Jalowiczor menunjukkan bahwa tujuan tercapai

Gadis 10 Tahun Jadi Penemu Supernova

AP
Kathryn Aurora Gray, gadis 10 tahun penemu supernova si bintang yang meledak.

Seorang gadis asal Kanada berumur 10 tahun menjadi penemu termuda sebuah supernova atau bintang yang meledak. Demikian menurut Asosiasi Astronomi Royal Kanada (RASC).

Gadis bermata tajam bernama Kathryn Aurora Gray dari Fredericton di provinsi timur New Brunswick itu menemukan sesuatu yang langka pada Minggu lalu sewaktu dia menyisir puluhan hasil pencitraan konstelasi bintang secara teleskopik di galaksi yang sangat jauh.

"RASC dengan senang mengumumkan penemuan sebuah supernova oleh seorang ahli astronomi amatir berumur 10 tahun sehingga menjadi yang termuda yang dapat menemukan supernova," kata asosiasi itu dalam pernyataannya.

Sewaktu mengamati supernova 2010lt di rasi bintang Camelopardalis di galaksi yang berjarak 240 tahun cahaya dari Bumi, Gray segera memberitahu ayahnya, Paul, yang merupakan ahli astronomi amatir.

Penemuan itu kemudian dibuktikan oleh dua ahli astronomi Amerika Serikat sebelum dilaporkan ke Badan Pusat Gabungan Astronomi Internasional bagi Telegram Astronomi.

Supernova merupakan bintang raksasa yang kehabisan bahan bakar dan hancur akibat beban dari gravitasinya sendiri. Supernova menjadi obyek sangat padat yang dikenal sebagai bintang neutron.

Kemudian, mereka mengeluarkan gelombang kejut yang meledakkan bintang tersebut dan menghasilkan lingkaran radiasi yang bergetar.

Kejadian luar biasa itu merupakan fenomena yang sangat menakjubkan bagi para ahli perbintangan dan dapat diketahui ketika ledakan bertenaga besar menciptakan cahaya dramatis, yang akhirnya memudar.

Satelit SOHO Berhasil Temukan 2000 Komet

ESAIlustrasi satelit SOHO.

KOMPAS.com - Satelit Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) telah berhasil dimanfaatkan untuk menemukan 2000 komet sejak diluncurkan 15 tahun lalu. Penemuan ini menjadikannya sebagai satelit penemu komet terampuh sepanjang masa.

Komet ke 2000 yang berhasil ditemukan dengan SOHO diumumkan pada tanggal 26 Desember 2010 lalu oleh NASA. Penemunya adalah Michal Kusiak, mahasiswa astronomi di Jagiellonian University, Polandia.

Kemampuan SOHO menemukan komet cukup menarik. Sebab, SOHO pada dasarnya tidak dirancang untuk meneliti komet. Saat diluncurkan pertama kalinya, SOHO sebenarnya bertugas meneliti atmosfer matahari atau disebut korona.

Ketika mengorbit dan mencitrakan matahari, SOHO menghalangi bagian yang paling terang dan mengirim citranya ke bumi. Astronom mendeteksi adanya komet dengan melihat spot yang ada pada sisi bagian yang terang, penanda adanya komet.

Perjalanan satelit hingga menemukan 2000 komet membutuhkan waktu 15 tahun. Waktu yang dibutuhkan untuk menginjak angka 1000 adalah 10 tahun, sementara waktu yang dibutuhkan untuk menemukan 1000 komet berikutnya hanya 5 tahun.

Penemuan komet dengan SOHO melibatkan 70 orang astronom amatir dan profesional dari 18 negara. Keseluruhanya melakukan secara sukarela. Mereka mengamati citra yang dihasilkan Large Angle and Spectrometric Coronagraph (LASCO), kamera milik SOHO.

Untuk mengkoordinasikannya, digunakan sebuah situs untuk melaporkan temuan. Karl Battams yang saat ini mengelola situs mengatakan, ketika menemukan komet, astronom akan melaporkannya langsung ke situs tersebut.

Selanjutnya, Karl akan mengkonfirmasi kebenaran dari setiap komet yang ditemukan dan memberi nomor tidak resmi. Data yang telah diberi nomor tersebut dikirim ke Minor Planet Center di Cambridge untuk kemudian diberi nama resmi.

Karl Battams mengungkapkan, "Ada banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan dengan adanya komet ini. Pertama, kita tahu ada lebih banyak komet di tata surya. Mereka bisa memberi tahu darimana mereka berasal dan hancur."

"Hampir keseluruhan komet yang ditemukan dengan SOHO berasal dari sumber yang sama," kata Battams. menurutnya, 85% dari komet berasal dari komet yang lebih besar bernama Kreutz yang hancur beberapa ratus tahun yang lalu.

Komet-komet yang ditemukan dengan SOHO atau yang disebut famili kreutz meruapakan "gembala matahari". Mereka bergerak mendekati matahari dan kemudian menguap dalam beberapa jam setelah penemuannya.

Michal Kusiak, si penemu komet ke 2000 sendiri termasuk astronom amatir yang berprestasi. Ia menemukan komet SOHO pertamanya pada tahun 2007 dan hingga kini telah menemukan 100 komet.