BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Sabtu, 25 Desember 2010

Kupu-kupu Elok Tertangkap Hubble


NASA

WASHINGTON, Setelah mengalami perbaikan, teleskop ruang angkasa Hubble kembali menampilkan foto-foto menakjubkan, salah satunya kupu-kupu angkasa dengan cahaya-cahaya elok.

Dengan pemasangan dua kamera baru dan beberapa perbaikan, Hubble mendapatkan foto galaksi-galaksi dan nebula—kabut gas dan debu bintang—lebih tajam dibanding gambar yang pernah diambil sebelumnya. Hubble juga berhasil menangkap cahaya-cahaya baru yang belum pernah dilihat.

Salah satu yang kemudian menjadi perbincangan adalah nebula yang menjadi tempat lahirnya bintang-bintang baru. Nebula berbentuk kupu-kupu ini memancarkan gas dan debu panas yang mengembang menyerupai sayap.

Foto-foto lain yang tak kalah indah adalah drama kosmis tentang kelahiran dan kematian bintang-bintang. Salah satunya memperlihatkan Carina Nebula, tempat kelahiran bintang berjarak 7.500 tahun cahaya. Satu tahun cahaya adalah jarak yang bisa ditempuh cahaya selama setahun atau sekitar 9,6 triliun kilometer. Dalam foto tampak awan kemerahan yang dibombardir radiasi. Saat Hubble menggunakan spektrum cahaya berbeda, awan-awan itu menghilang dan tampaklah bintang-bintang muda berumur sekitar 100.000 tahun.

Foto yang berbeda memperlihatkan ribuan kelompok bintang yang tersebar dalam cahaya putih di antara titik-titik biru yang merupakan bintang panas dan titik-titik merah bintang yang lebih dingin.

Foto-foto Hubble ini diambil dalam galaksi Bima Sakti, kecuali lima galaksi spiral yang difoto dalam satu frame.

Dengan kemampuan barunya, Hubble akan mengarahkan kamera ke ujung terjauh jagat raya dan mengambil foto angkasa beberapa saat setelah Big Bang atau ledakan besar yang diyakini sebagai awal terbentuknya semesta.

Dugaan Ada Laut di Pluto Makin Kuat


HST
Foto Pluto diambil dengan Faint Object Camera Teleskop Ruang Angkasa Hubble.
TERKAIT:

Sebuah model di komputer memunculkan kemungkinan adanya kolam air di bawah lapisan es Pluto yang tebal. Para ilmuwan menduga Pluto punya inti berupa batu yang memiliki materi radioaktif. Secara perlahan, inti tersebut rusak, melepaskan panas yang bisa mencairkan es sekaligus mempertahankan bentuk cair itu.

"Mengingat ukuran dan komposisi Pluto, 100 bagian per 1 miliar potasium radioaktif bisa mempertahankan air 60-105 mil pada kedalaman 120 mil," kata Guillaume Robuchon, ilmuwan keplanetan dari University of California di Santa Cruz, Amerika Serikat.

Simulasi tersebut, seperti ditulis oleh Robuchon pada sinopses penelitian yang dipresentasikan minggu lalu di konferensi American Geophysical Union, memberikan petunjuk kalau Pluto saat ini memiliki laut.

Dugaan ini mungkin akan terbukti sekitar 5 tahun mendatang. Saat itu, wahana antariksa New Horizon milik NASA akan tiba di Pluto sebagai bagian dari perjalanan 10 tahun ke sana. New Horizon adalah pesawat antariksa tanpa awak yang dikirim ke Pluto. Saat ini, New Horizon sudah menempuh jarak 3 miliar mil.

Para ilmuwan juga akan melihat kutub di Pluto untuk mengetahui bentuk bagian dalam Pluto.(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Minggu, 19 Desember 2010

Astronomi : Alam Semesta Kita Bukan Satu-satunya



Ilustrasi Alam Semesta

KOMPAS.com — Beberapa waktu lalu dua ahli astronomi, yakni Roger Penrose dari Universitas Oxford dan Vahe Gurzadyan dari Yerevan State University di Armenia, mengemukakan teori baru alam semesta, yang pernah ditulis dalam artikel Kompas.com "Alam Semesta Sudah Ada Sebelum Big Bang".

Berdasarkan temuan adanya lingkaran konsentris kosmos, dalam teorinya kedua ilmuwan itu mengungkapkan bahwa alam semesta tercipta lewat sebuah siklus aeon. Setiap siklus diakhiri dengan sebuah big bang yang juga menjadi tanda berawalnya siklus baru.

Singkatnya, sebelum masa kita hidup sekarang, telah terdapat masa yang lalu. Masa lalu tersebut diakhiri oleh big bang yang dikenal sekarang, yang merupakan big bang terakhir sejauh ini. Nantinya, masa kita akan berakhir juga dengan sebuah big bang lagi.

Nah, masih berhubungan dengan teori baru itu, kini ada ilmuwan lain yang mengemukakan hal yang berkaitan dengan temuan Penrose dan Gurzadyan. Ilmuwan itu mengemukakan hal tersebut berdasarkan model alam semesta yang disebut eternal inflation atau inflasi abadi.

Dalam cara pandang tersebut, alam semesta yang kita tahu adalah sebuah gelembung yang ada dalam semesta yang lebih besar. Semesta tersebut juga diisi dengan gelembung-gelembung lain, di mana mereka memiliki hukum-hukum fisika yang mungkin berbeda dengan yang diketahui.

Menurut para ilmuwan itu, gelembung yang ada mungkin memiliki masa lalu yang penuh kekerasan. Mereka berdesakan dan meninggalkan "memar kosmos" sebagai hasil ketika satu sama lain bertabrakan. Jika hal itu benar, memar kosmos tersebut pasti bisa dilihat.

Stephen Feeney dari University College London, si ilmuwan yang dimaksud, menemukan bukti memar kosmos yang tampil dalam bentuk lingkaran dalam latar gelombang mikrokosmos. Ia menemukan empat lingkaran, bukti bahwa semesta kita telah bertabrakan paling tidak empat kali pada masa lalu.

Bagaimanapun, temuan itu adalah bukti pertama adanya semesta sebelum big bang. Beberapa ilmuwan menanggapi bahwa temuan ini bisa saja merupakan tipuan mata. Seperti yang diakui Feeney, "Lebih mudah melihat data statistik daripada mengamati data di CMB."

Ilmuwan mengatakan, satu-satunya cara untuk mengetahui kebenaran pendapat tersebut adalah menemukan data yang lebih baik. Jika beruntung, Planck Spacecraft yang kini tengah diperbantukan untuk mengamati latar lingkaran mikrokosmos dengan resolusi lebih tinggi bisa mengirimkan data itu.

Planck diharapkan bisa mengirimkan data yang dimaksud atau menemukan misteri yang lebih hebat lagi. Sementara para kosmolog nantinya akan mengolah dan menginterpretasikan data itu, kita bisa membaca hasil diskusinya. Mari kita nanti buktinya.

www.technologyreview.com

Hah... Planet Bisa Reinkarnasi ?


NASAPlanet di luar tata surya

KOMPAS.com - Selama ini, planet-planet ditemukan di sekitar bintang membentuk suatu sistem tata surya. Secara teori, saat bintang-bintang yang menjadi pusat tata surya mati dan meledak, planet pun akan urut hancur. Lantas, apa yang terjadi kemudian?

Mungkin enggak bintang yang sudah mati ini masih memiliki planet. Atau mungkinkah planet yang sebelumnya terbakar dan hancur bisa terbentuk lagi, jadi seperti reinkarnasi begitu?

Setelah menemukan 15 planet ekstrasurya sejak melakukan penelitian intensif tahun 1999, Johny Setiawan, seorang astronom asal Indonesia yang bekerja di Max Planck Institut fur Astronomie, Jerman tergelitik dengan pertanyaan tersebut. Ia bahkan sampai terpikir kalau planet yang hancur setelha bintangnya mati bisa terbentuk lagi. Mirip reinkarnasi.

"Mungkin enggak bintang yang sudah mati ini masih memiliki planet. Atau mungkinkah planet yang sebelumnya terbakar dan hancur bisa terbentuk lagi, jadi seperti reinkarnasi begitu?" ungkap pria yang kini berusia 36 tahun tersebut.

Pertanyaan ini bukannya tak berdasar sebab ia telah menemukan adanya fenomena tersebut lewat observasinya. "Saya menemukan bintang yang sudah mati, tapi planetnya masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan," katanya.

Tanda-tanda kehidupan yang dimaksud ada dua hal. Pertama, terdapatnya piringan atau massa debu di sekitar planet tersebut. Kedua adalah adanya gerakan secara teratur bukti kuat bahwa planet tersebut masih hidup.

Ia mengatakan, terdapat dua kemungkinan yang bisa menjadi sebab fenomena tersebut. "Apakah planetnya itu super kuat sehingga bisa bertahan walaupun bintangnya sudah meledak. Atau, planetnya terbentuk kembali," jelas Johny.

Tentang apa nama planet dan bintang yang tengah ditelitinya, Johny belum bisa menceritakan. Namun, ia mengatakan bahwa tahun depan pertanyaan akan nama dan kemungkinan reinkarnasi bintang itu akan terjawab.

Johny adalah pimpinan proyek penelitian di Max Planck yang bersama timnya baru saja menemukan planet HIP 13044b, sebuah planet yang berasal dari luar galaksi kita, namun seakan tertelan sehingga berada di wilayah Bima Sakti.

Planet HIP 13044b mengorbit pada bintang yang disebut HIP 13044 atau Sergio, sebuah bintang yang sudah memasuki usia senja dan miskin kandungan logam. Penemuan Johny dipublikasikan di Scientific Express bulan lalu.

sumber : KOMPAS.com

Inilah Planet Pertama di Luar Bima Sakti



ESOIlustrasi planet HIP 13044 b, yang mengelilingi sebuah bintang di luar Galaksi Bima Sakti.

WASHINGTON, KOMPAS.com — Untuk kali pertama, para ilmuwan menemukan sebuah planet di luar galaksi Bima Sakti, bukan hanya di luar tata surya. Selama ini, planet-planet asing di luar tata surya kita atau sering disebut planet ekstrasolar selalu ditemukan di dalam bagian galaksi Bima Sakti.

Namun, sebuah planet yang baru-baru ini terdeteksi diketahui berada di luar tepian galaksi yang mengorbit sebuah bintang yang tengah sekarat pada jarak 2000 tahun cahaya dari Bumi. Planet tersebut berukuran sedikit lebih besar dari Jupiter, planet terbesar di tata surya, dan sama-sama termasuk jenis planet gas panas.

"Penemuan ini sangat mengejutkan. Karena jaraknya yang sangat jauh, selama ini tidak ada planet-planet yang terdeteksi di galaksi lainnya," ujar Rainer Klement dari the Max Planck Institute of Astronomy, Kamis (18/11/2010). Yang lebih mengejutkan lagi, kepala ilmuwan yang meneliti planet tersebut adalah astronom asal Indonesia yang bekerja di the Max Planck Institute, Johny Setiawan.

Johny Setiawan dan timnya berhasil mendeteksi lokasi bintang dan planet tadi setelah memusatkan perhatian pada sebuah denyut gelombang di permukaan bintang akibat gaya gravitasi planet dan bintang yang sedang mengorbit. Mereka menggunakan teleskop yang dimiliki Laboratorium Selatan Eropa di Observatorum La Silla, Cile, yang dibangun di ketinggian 2.400 meter dan terletak sekitar 600 kilometer utara ibu kota Santiago.

Planet tersebut diberi nama HIP 13044 b. Sistem planet dan bintang tersebut diduga bagian dari arus helmi, sekelompok bintang yang tercerai-berai dari galaksi mini yang hancur setelah disedot galaksi Bima Sakti antara 6 dan 9 miliar tahun lalu. Planet dan bintang tersebut juga diperkirakan tengah bergerak ke arah Bima Sakti sebelum melebur.

Bintang merah raksasa

Bintang yang dikelilingi planet HIP 13044 b itu termasuk jenis bintang merah raksasa yang sedang memasuki fase kehancurannya. Ukurannya menggembung menjadi sangat besar karena hampir seluruh energi dari intinya telah dilepaskan. Planet menjadi sangat panas karena mengorbit dekat sekali dengan bintang tersebut.

Selain mengorbit sangat dekat, planet tersebut mengelilingi bintangnya dengan sangat cepat dan dalam periode 16 hari saja. Para ilmuwan pun memperkirakan umur planet tersebut tidak lama sebelum hancur menabrak bintangnya.

"Penemuan ini sangat menarik untuk melihat masa depan sistem tata surya kita karena Matahari juga diperkirakan akan menjadi bintang merah raksasa lima miliar tahun lagi," ujar Johny.

sumber : KOMPAS.com

WHAT YOUR OPINION ??


Harga Pas: Rp 454.000,- / Buah
Minimum Order: 1 buah
Berat Kemasan: 2 kg
Toko: UCCAComputer.Co.Cc
Kategori: Everything Else - Everything Else

Daftar Harga

Kisaran Jumlah (Buah)
Harga Satuan
1 - 5 Rp 454.000,-
6 - 10 Rp 404.000,-
> 10 Rp 404.000,-

Land and Sky Telescope F36050 ini Memiliki 2 Fungsi Yaitu Untuk Melihat Objek Yang Sangat Jauh Seperti Bulan dan Untuk Melihat Object Yang Berada di Permukaan Bumi Seperti Puncak Gunung Maupun Panorama Alam

Telescope ini Mempunyai Kemampuan Pembesaran Objek Sampai 90 Kali. Panjang Teropong ini 36 cm (Pembesaran Obyek 60x) dan 52 cm (Pembesaran Obyek 90x). Dilengkapi Dengan Tripod (Kaki Tiga) Yang Tingginya 36 cm

Spesifikasi :

Model : 36050 Telescope
Focal Length : 360 mm (Panjang 36 cm)
Diameter : 5 cm
Lensa : Coated Optics
Dilengkapi 2 Eyepieces Dengan Ukuran Yang Berbeda Yaitu 6 mm (Perbesaran Obyek 60x) dan 20 mm (Perbesaran Obyek 18x)
Berat Dihitung Berdasarkan Volumetric Weight : 1 Kg x ((46 cm x 22 cm x 12 cm) : 6000) = 2,024 Kg

Peringatan :

*Jangan Melihat Matahari Dengan Telescope ini Karena Bisa Merusak Mata
*Untuk Anak Dibawah 12 Tahun Sebaiknya Ditemani Orang Dewasa Untuk Menggunakan Telescope ini

Menantang Kemapanan dalam Astronomi


YUNANTO WIJIUTOMO

Kalau ada orang yang senang menantang kemapanan dalam astronomi, mungkin Johny Setiawan-lah orangnya. Ia adalah astronom berusia 36 tahun asal Indonesia yang bekerja di Departemen Planet dan Formasi Bintang Max Planck Institute for Astronomy, Jerman.

Mengapa dikatakan senang menantang? Sebab lewat beberapa risetnya, ia tengah mempertanyakan kembali tentang teori proses terbentuknya planet serta berbagai syarat
yang dibutuhkan, sesuatu yang saat ini seolah menjadi dogma.

Sebut saja terbentuknya planet yang mensyaratkan adanya bintang yang kaya logam. Kemudian, sebuah teori lagi yang mengatakan, ketika bintang telah menua usianya,
planet-planet di sekitarnya akan mati. Johny menantang kedua hal tersebut.

"Banyak yang mengatakan mustahil bagi planet untuk tetap hidup saat bintangnya sudah menua. Tapi ternyata salah. Penelitian saya menunjukkan hal itu," paparnya.

Penelitian yang dimaksud adalah hasil temuan terbarunya, planet ekstra surya bernama HIP 13044b yang memiliki bintang induk yang disebut HIP 13044 atau Sergio. Temuannya dipublikasikan dalam jurnal Scientific Express bulan lalu.

Penemuan tersebut memiliki tiga keistimewaan. Pertama adalah karakteristik bintang induknya. "Bintang induk planet ini ternyata miskin logam, kandungan logamnya kurang
lebih hanya 1 persen," kata Johny. Padahal, bintang induk biasanya kaya akan logam. Keistimewaan kedua adalah planet yang ditemukan ternyata berasal dari galaksi asing,
alias di luar Bima Sakti. "Karena gaya gravitasi Bima Sakti yang kuat, maka planet-planet yang terdapat di galaksi lain akan tertarik," jelas Johny.

Keistimewaan ketiga, ia mengatakan, "planet itu menginduk pada sebuah bintang yang sebenarnya sudah memasuki masa senjanya. Ini baru satu-satunya yang seperti itu,"
katanya yang telah menemukan 15 planet ini.

Ia menjelaskan, "Dilihat dari teori evolusi bintang, planet yang saya temukan seharusnya sudah hancur. Tapi ternyata masih hidup." Bintang induk planet tersebut seharusnya
sudah membakar planet itu.

Menurut Johny, "Penemuan ini bisa menjadi dasar pendapat bahwa ketika matahari menua 5 milyar tahun nanti, planet bumi sebenarnya masih hidup walaupun dengan
kondisi yang jauh berbeda dengan sekarang."

Namun demikian, kehidupan di muka bumi diperkirakan telah tiada. "Manusia mungkin sudah ngga ada di bumi," cetusnya. Suhu bumi akan panas sehingga jika ada, mungkin
hanya makhluk tahan panas yang bisa bertahan.

Kini, ia tengah mempersiapkan penelitian terbarunya. Penelitian ini akan melihat kemungkinan planet untuk tetap hidup kala bintang induknya sudah mati. Sekaligus kemungkinan planet-planet bisa bereinkarnasi.

Sejak kecil

Perjalanan kesuksesan Johny sebenarnya telah dimulai sejak umur 4 tahun. "Saat itu saya senang sekali lihat film Star Trek di TVRI. Rasanya senang bisa lihat penjelajahan
ke luar angkasa. Orang tua saya mungkin tidak menyadari, tapi saya terinspirasi," kenangnya.

Ketika beranjak lebih besar, ia mulai membaca khazanah ilmu pengetahuan bagi anak-anak berjudul "Alam Semesta dan Isinya". Wawasannya tentang astronomi pun
bertambah, seiring minatnya yang juga terpupuk.

Memasuki bangku SMA, ia banyak mendapat kesempatan mengikuti lomba-lomba seperti kimia dan fisika. Meski demikian, nilai fisikanya sebenarnya termasuk yang
terendah diantara nilai IPA lainnya. Tapi, ia tetap percaya bisa mencapai cita-cita sebagai astronom.

Lulus SMU, ia pun melanjutkan studi ke Freiburg University dari jenjang sarjana hingga doktoral. Saat mengambil program doktoral itulah ia mendapat kesempatan untuk
meneliti planet ekstra surya dan akhirnya berlanjut hingga sekarang.

"Saat itu, professor saya memberikan tawaran untuk menganalisa garis spektrum bintang," katanya. Dengan menganalisa garis spektrum bintang, manusia bisa mengetahui
keberadaan planet yang mengelilingi bintang tersebut.

Hingga kini, Johny telah berhasil menemukan 15 planet ekstra surya. Beberapa di antaranya adalah HD 47536b, HD 47536c, HD 70573b dan HD 11977b. Angka
dalam nama planet menunjukkan posisi planet di jagad raya sementar hurub di belakang menunjukkan urutan planet.

Astronomi di Indonesia, menurut Johny, sangat berpotensi untuk dikembangkan. "Kita punya banyak potensi tetapi tidak memiliki kesempatan," katanya saat ditemui di
International Summit Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional 2010, Jumat (17/12/2010).

"Melihat itu, sebaiknya yang dilakukan untuk meningkatkan kesempatan. Misalnya, coba kalau di suatu kota ada suatu observatorium. Saya kira itu akan turut membangun
kesempatan menjadi astronom," katanya.

Dengan kesempatan yang diciptakan, ia mengatakan bahwa mungkin akan banyak orang Indonesia yang menekuni astronomi. Ia pun siap membantu dengan bergabung dalam Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I4), wadah buat para ilmuwan asal Indonesia yang kini berkarir di luar negeri untuk memberi sumbangan bagi perkembangan iptek di Tanah Air.

sumber : KOMPAS.com